Rijsttafel Kolonial Beradaptasi, Jadi Simbol Kebersamaan Saat Lebaran

- Minggu, 22 Maret 2026 | 14:25 WIB
Rijsttafel Kolonial Beradaptasi, Jadi Simbol Kebersamaan Saat Lebaran

PARADAPOS.COM - Tradisi makan bersama keluarga dengan beragam hidangan khas menjadi ciri khas perayaan Idul Fitri di Indonesia. Konsep kebersamaan di meja makan ini ternyata memiliki akar sejarah yang dalam, terkait dengan budaya rijsttafel dari masa kolonial. Kini, makna dan penyajian rijsttafel mengalami transformasi, bergeser dari simbol kemewahan menjadi perayaan kesederhanaan dan kehangatan keluarga, seperti yang diadaptasi oleh sejumlah hotel dalam menyambut Lebaran.

Dari Meja Kolonial ke Meja Keluarga

Budaya rijsttafel, yang secara harfiah berarti "meja nasi", mulai dikenal di Jawa pada abad ke-19. Awalnya, penyajiannya yang berurutan dalam porsi kecil dengan puluhan hidangan menjadi penanda status sosial orang Belanda. Sebuah karya ilmiah dari Universitas Negeri Yogyakarta (2020) mencatat, praktik kuliner ini menjadi bukti inspirasi budaya kolonial bagi perkembangan kuliner modern di Jawa.

Namun, popularitas rijsttafel klasik tersebut kini telah memudar. Esensinya justru dihidupkan kembali dengan makna baru. Di tangan para koki profesional, konsep lama itu dikembalikan kepada rohnya yang paling mendasar: kebersamaan.

Tri Julianto, Head Chef Sheraton Bandung Hotel & Towers, menjelaskan filosofi di balik perubahan ini. Ia menuturkan, rijsttafel pada hakikatnya adalah tentang berkumpul dan menikmati hidangan bersama.

"Terminologi rijsttafel itu sebenarnya seperti makan tengah. Semua hidangan sudah disiapkan, lalu dinikmati bersama dalam satu meja," ungkapnya.

Akulturasi Rasa dalam Satu Penyajian

Sejarah mencatat, rijsttafel adalah buah percampuran dua budaya, yang kemudian melahirkan Indische Keuken atau kuliner Hindia. Menurut Journal of History Education and Historiography (2022), istilah ini baru populer di kalangan keluarga Belanda pada 1870-an. Meja makan mereka saat itu dijejali beragam sajian, mulai dari nasi kukus, nasi goreng, hingga olahan daging seperti sate, dendeng, dan biefstuk.

Kekayaan ragam menu inilah yang kemudian beresonansi dengan tradisi Lebaran di Nusantara. Konsep satu meja dengan banyak hidangan terasa sangat dekat ketika keluarga menyantap ketupat, opor ayam, semur, sambal goreng kentang, dan sayur labu secara bersama-sama.

Chef Tri Julianto mengemas paket hidangan ini untuk dinikmati dua hingga empat orang. Ia berupaya menciptakan suasana intim layaknya di rumah sendiri.

"Jadi kehangatan saat Lebaran bisa dirasakan keluarga dengan menu yang sudah kita siapkan spesial," jelas chef lulusan NHI 2012 yang pernah berkarier di Dubai ini.

Keutuhan Rasa yang Tak Tergantikan

Di balik kemewahan penyajian, kunci utama tetap terletak pada keutuhan bumbu. Dalam khazanah masakan Nusantara, setiap rempah—dari bawang merah, bawang putih, lengkuas, hingga kemiri—memiliki peran yang saling melengkapi. Menghilangkan satu elemen saja dapat mengubah karakter rasa secara signifikan.

"Semua bumbu itu penting. Satu saja hilang, pasti terasa ada yang kurang," tegas Tri yang mengawali karir di bistro Prancis di Jakarta.

Prinsip inilah yang dipegang dalam mengolah setiap hidangan. Opor ayam kuah putih yang disajikan, misalnya, adalah hasil akulturasi panjang yang mencerminkan pengaruh budaya Tionghoa peranakan. Sementara semur daging menghadirkan rasa manis gurih yang meresap, dan sambal goreng kentang tetap menjaga karakter pedasnya yang akrab. Aroma daun salam dan serai yang menggugah selera sengaja dipertahankan.

Dengan demikian, meski disajikan dalam format rijsttafel yang lebih modern, cita rasa autentik khas rumahan tetap menjadi prioritas utama. Paket hidangan Lebaran dengan konsep ini ditawarkan untuk dinikmati bersama keluarga pada periode tertentu, menghadirkan esensi kebersamaan yang sesungguhnya di atas meja makan.

Editor: Annisa Rachmad

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar