Menteri Agama Sebut Candi Borobudur Bukan Sekadar Warisan Budaya, Melainkan Living Spiritual Heritage

- Rabu, 06 Mei 2026 | 20:50 WIB
Menteri Agama Sebut Candi Borobudur Bukan Sekadar Warisan Budaya, Melainkan Living Spiritual Heritage
PARADAPOS.COM - Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa Candi Borobudur bukan sekadar warisan budaya dunia, melainkan juga sumber nilai spiritual yang hidup atau "living spiritual heritage". Pernyataan ini disampaikan dalam Roadshow Lokakarya Borobudur Sambut Waisak, Rabu, 6 Mei 2026. Menurutnya, candi Buddha terbesar di dunia itu relevan untuk memperkuat karakter dan harmoni masyarakat di tengah dinamika zaman.

Borobudur sebagai “Kitab yang Dipahat”

Di hadapan para peserta lokakarya, Nasaruddin Umar menggambarkan Borobudur dengan cara yang puitis namun mendalam. “Borobudur bukan sekadar bangunan batu yang berdiri kokoh, melainkan sebuah ‘kitab yang dipahat’. Setiap reliefnya mengajak kita untuk merenung, melihat ke dalam diri, dan menapaki jalan menuju kebijaksanaan,” ujarnya. Ia menambahkan, monumen ini perlu dimaknai lebih dari sekadar struktur fisik. Borobudur, kata dia, adalah representasi perjalanan batin manusia menuju kebijaksanaan. Nilai-nilai yang terkandung di dalam reliefnya mencerminkan ajaran universal tentang pengendalian diri, keseimbangan hidup, dan kebijaksanaan—ajaran yang tetap relevan hingga kini.

Reinterpretasi untuk Kehidupan Sehari-hari

Menteri Agama juga menyoroti tema lokakarya kali ini, yakni “Reinterpreting Borobudur”. Menurutnya, tema tersebut bukan hanya kajian akademik belaka. “Tema Reinterpreting Borobudur bukan sekadar kajian akademik, tetapi juga panggilan untuk menghidupkan kembali nilai-nilai luhur agar hadir nyata dalam kehidupan sehari-hari,” ungkap Nasaruddin. Ia menekankan, pemaknaan ulang terhadap Borobudur harus mampu menjembatani masa lalu dengan kebutuhan spiritual masyarakat modern. Bukan sekadar pelestarian fisik, melainkan juga penghidupan kembali makna.

Menjaga Kesakralan Situs Keagamaan

Dalam kesempatan yang sama, Imam Besar Masjid Istiqlal itu mengingatkan pentingnya menjaga kesakralan situs keagamaan. Menurut Nasaruddin, setiap agama memiliki konsep ruang dan waktu sakral yang perlu dihormati bersama sebagai bagian dari etika keberagamaan. “Tempat ibadah adalah ruang perjumpaan batin antara manusia dengan Tuhan. Di sanalah ketenangan, kebijaksanaan, dan kesadaran diri tumbuh. Oleh karena itu, menjaga etika dan penghormatan terhadap ruang-ruang sakral menjadi tanggung jawab bersama,” sebutnya. Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa Borobudur, meskipun menjadi objek wisata, tetaplah ruang sakral yang membutuhkan penghormatan khusus dari setiap pengunjungnya.

Borobudur sebagai Inspirasi Karakter Bangsa

Nasaruddin Umar mengajak masyarakat untuk menjadikan Borobudur sebagai sumber inspirasi dalam pembangunan karakter bangsa. Nilai kebijaksanaan, keseimbangan, dan kasih sayang yang tercermin dalam setiap sudut candi dinilai penting sebagai fondasi kehidupan yang beradab dan harmonis. “Nilai-nilai tersebut perlu terus dihidupkan agar menjadi pedoman dalam membangun kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang inklusif dan damai,” ujar Nasaruddin. Ia percaya, jika nilai-nilai luhur itu dihayati, maka Borobudur tidak hanya akan menjadi kebanggaan masa lalu, tetapi juga menjadi kompas moral bagi generasi mendatang.

Kolaborasi Lintas Sektor untuk Pelestarian

Dalam konteks pelestarian, Menteri Agama menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor. Menurutnya, Borobudur tidak bisa dijaga oleh satu pihak saja. Dibutuhkan sinergi antara pemerintah, masyarakat, akademisi, dan tokoh agama agar warisan ini tetap bermakna. “Warisan besar seperti Borobudur akan terus bermakna jika dijaga bersama, melalui sinergi pemerintah, masyarakat, akademisi, dan tokoh agama. Dengan begitu, nilai-nilainya dapat terus memberi manfaat bagi generasi kini dan mendatang,” kata Nasaruddin. Pernyataan ini menutup rangkaian diskusi dengan penekanan pada tanggung jawab kolektif. Bukan hanya soal batu dan relief, tetapi tentang bagaimana sebuah warisan agung tetap hidup dalam jiwa bangsa.

Editor: Dian Lestari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler