PARADAPOS.COM - Dua prajurit Marinir TNI AL gugur dalam sebuah kontak senjata dengan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di wilayah Maybrat, Papua Barat Daya, Minggu (22/3) pagi. Insiden yang terjadi sekitar pukul 07.00 WIT di Kampung Sori, Distrik Aifat Selatan, itu juga mengakibatkan satu prajurit lainnya dalam kondisi kritis dan dua pucuk senjata milik TNI dilaporkan dirampas kelompok bersenjata tersebut.
Korban Dievakuasi ke Rumah Sakit Sorong
Kedua prajurit yang gugur diidentifikasi berinisial Prada Marinir AS dari Batalyon Marinir 7 dan Prada Marinir ES dari Batalyon Marinir 10. Sementara, Kopda Marinir ES dari Yonmar 7 mengalami luka berat. Ketiganya merupakan bagian dari Satuan Tugas Operasi Habema. Setelah kejadian, para korban segera dievakuasi untuk mendapatkan perawatan intensif di Rumah Sakit Angkatan Laut (RSAL) dr. R. Oetojo di Kota Sorong.
Peningkatan Kewaspadaan dan Pemetaan Wilayah Rawan
Menanggapi insiden ini, Komandan Korem 181/Praja Vira Tama (PVT) Brigjen TNI Slamet Riyadi menyatakan pihaknya telah mengambil sejumlah langkah antisipatif. Fokus utamanya adalah meningkatkan kewaspadaan operasional dan memetakan ulang daerah-daerah yang dinilai rentan terhadap gangguan keamanan.
"Setelah kejadian ini, kami meningkatkan kewaspadaan, melakukan pemetaan wilayah rawan, serta memperketat pengawasan di lapangan," tutur Slamet saat dijumpai di depan RSAL Dr. R. Oetojo Kota Sorong.
Koordinasi dan Penguatan Pasukan
Brigjen Slamet menjelaskan, koordinasi antar satuan keamanan akan diperkuat, termasuk dengan Satgas Operasi Habema yang mencakup prajurit dari Batalyon Marinir 10. Pembagian sektor operasi antara satuan di bawah Korem 181/PVT dan Satgas Habema dirancang untuk memungkinkan respons yang lebih cepat dan terkoordinasi.
"Koordinasi terus kami lakukan dengan Satgas Habema. Dengan pembagian sektor yang ada, setiap potensi gangguan dapat segera direspons," jelasnya.
Lebih lanjut, untuk mengamankan wilayah yang rawan, komando sedang mempertimbangkan penambahan maupun pergeseran pasukan. Penguatan di bidang intelijen juga menjadi prioritas untuk mengembangkan informasi yang diterima dari masyarakat dan lapangan.
"Penambahan pasukan sedang direncanakan, termasuk penguatan intelijen. Informasi dari masyarakat dan aparat intelijen akan terus kami kembangkan," ungkapnya.
Penyelidikan Terus Berjalan
Meski telah memiliki indikasi awal mengenai pelaku, pihak TNI memilih untuk bersikap hati-hati sebelum menyampaikan informasi ke publik. Penyelidikan mendalam masih terus dilakukan untuk memastikan validitas setiap data dan petunjuk yang didapat.
"Kami sudah memiliki dugaan terhadap pelaku, tetapi akan kami sampaikan setelah informasi benar-benar valid," lanjut Slamet Riyadi.
Di akhir pernyataannya, ia menegaskan bahwa insiden tragis ini tidak akan mengendurkan soliditas dan sinergi antara TNI dan Polri dalam menjaga stabilitas keamanan di Papua Barat Daya. Brigjen Slamet juga menyampaikan duka cita yang mendalam atas gugurnya dua prajurit tersebut dalam menjalankan tugas negara.
Artikel Terkait
Brigadir Polda Metro Jaya Meninggal Diduga Akibat Kelelahan Usai Tugas Mudik
Pemkab Sukoharjo Beri Pembinaan ke Kades Usai Penolakan Izin Salat Id
Lille Balikkan Keadaan, Kalahkan Marseille 2-1 di Menit Akhir
Dewas KPK Didesak Periksa Pimpinan Soal Tahanan Rumah Gus Yaqut