PARADAPOS.COM - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas Presiden RI Prabowo Subianto mulai menunjukkan dampak ekonomi riil di tingkat petani. Di Boyolali, Jawa Tengah, program yang bertujuan memenuhi gizi masyarakat ini turut menggerakkan roda pertanian lokal dengan menciptakan pasar baru yang stabil, meningkatkan harga jual komoditas, dan didukung oleh bantuan pemerintah untuk produksi.
Pasar Baru yang Mengubah Pola Jual Beli
Di Dukuh Pasah, Desa Senden, Kecamatan Selo, suasana kebun sayur tampak lebih hidup. Para petani yang selama ini menggantungkan hasil panennya pada pasar tradisional dan tengkulak, kini memiliki saluran pemasaran tambahan yang signifikan: Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG. Perubahan ini tidak hanya soal tempat menjual, tetapi juga memberikan kepastian yang selama ini sering kali sulit didapat.
Agus Irawan, seorang petani berusia 34 tahun, merasakan langsung geliat permintaan yang meningkat. Komoditas seperti tomat, brokoli, sawi putih, selada, dan cabai yang ia tanam kini lebih laku karena diserap oleh program nasional tersebut.
"Permintaan tidak hanya dari tengkulak maupun pedagang sayur pada umumnya, tapi juga diserap oleh program MBG," tutur Agus di Boyolali, Selasa, 21 April 2026.
Dampak Nyata: Harga Naik dan Semangat Bertumbuh
Dampak paling langsung yang dirasakan adalah pada harga jual. Agus mengonfirmasi adanya kenaikan harga yang cukup signifikan, yang memberikan suntikan optimisme bagi dirinya dan rekan-rekan petani lainnya. Kenaikan ini bukan angka semata, melainkan penopang nyata bagi semangat mereka untuk terus berproduksi.
"Untuk peningkatan, sekitar 40 sampai 60 persen, bergantung dari jenis komoditas masing-masing sayuran," jelasnya.
Ia menambahkan, kondisi ini membuatnya senang dan bersemangat untuk bertani, sekaligus merasa menjadi bagian dari upaya besar memberikan gizi kepada anak-anak Indonesia.
Dukungan Pemerintah untuk Keberlanjutan
Program MBG tidak berjalan sendiri. Untuk mendukung pasokan yang berkelanjutan, pemerintah melalui Dinas Pertanian Jawa Tengah memberikan bantuan produksi berupa pupuk NPK dan ZA kepada para petani. Bantuan ini menjadi modal berharga, terutama untuk menghadapi tantangan musim kemarau yang kerap mengganggu siklus tanam.
"Dengan adanya bantuan ini, nanti kami alokasikan untuk tambahan sayur-mayur. Jadi meskipun nanti di bulan-bulan Agustus itu ada musim kemarau, itu kami juga masih menanam untuk bisa menyuplai program MBG," ujar Agus.
Dianto, anggota Kelompok Tani Ngudi Santoso, juga membenarkan adanya penyesuaian pola tanam oleh petani. Mereka kini lebih fokus menanam komoditas yang dibutuhkan dapur MBG, seperti selada, buncis, wortel, sawi, dan brokoli. Menurutnya, bantuan pupuk dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, yang bersumber dari dana cukai tembakau, sangat tepat waktu.
"Bantuan pupuk yang dihasilkan dari dana hasil cukai tembakau ini untuk persiapan menanam sayur jelang musim kemarau," ungkap Dianto.
Sinergi antara program pemenuhan gizi dan pemberdayaan petani lokal ini menunjukkan sebuah model yang saling menguatkan. Stabilitas harga dan dukungan input produksi menciptakan ekosistem yang memungkinkan kedua tujuan—gizi masyarakat dan kesejahteraan petani—berjalan beriringan. Keberhasilan di tingkat lapangan seperti di Boyolali ini menjadi catatan penting bagi evaluasi dan pengembangan program serupa ke depannya.
Artikel Terkait
ASN Yahukimo Tewas Ditembak di Halaman Rumah, OPM Diduga Pelaku
Jerman dan CIFOR Sepakati Pembentukan Sekretariat Regional di Bonn untuk Perkuat Aksi Lingkungan Global
Jawa Tengah Catat 162 Bencana dalam Empat Bulan, Pemerintah Perkuat Mitigasi
Perundingan AS-Iran Tertunda, Mediator Pakistan Tunggu Konfirmasi Tehran