Iran Peringatkan AS untuk Tidak Eskalasi Militer di Selat Hormuz

- Selasa, 05 Mei 2026 | 11:25 WIB
Iran Peringatkan AS untuk Tidak Eskalasi Militer di Selat Hormuz
PARADAPOS.COM - Mohammad Bagher Ghalibaf, negosiator utama Iran yang juga menjabat sebagai ketua parlemen, mengeluarkan peringatan keras kepada Amerika Serikat pada Selasa (5/5/2026) agar tidak meningkatkan eskalasi militer di Selat Hormuz. Peringatan ini muncul di tengah klaim saling serang antara kedua negara di jalur perairan strategis tersebut, yang kembali memicu ketegangan di Timur Tengah dan mengancam pasokan energi global.

Klaim Serangan dan Bantahan di Selat Hormuz

Militer Amerika Serikat mengklaim bahwa helikopter Apache dan Seahawk mereka berhasil menghantam enam kapal Iran yang dinilai mengancam pelayaran komersial. Presiden Donald Trump secara terpisah bahkan menyebut pasukannya telah "menghancurkan" tujuh kapal militer kecil Iran di perairan yang sama. Washington juga mengklaim berhasil menepis serangan rudal dan drone yang dilancarkan pada Senin (4/5). Di sisi lain, Uni Emirat Arab, salah satu negara Teluk yang menjadi basis aset militer AS, melaporkan adanya rentetan serangan terbaru Iran di wilayahnya. Situasi ini menunjukkan betapa rumitnya peta konflik yang telah melibatkan banyak aktor regional.

Peringatan dari Teheran

Peringatan terbaru dari Teheran disampaikan setelah Presiden Trump mengumumkan misi militer AS untuk memandu kapal-kapal dari negara-negara netral keluar dari perairan Teluk dengan melintasi Selat Hormuz. "Kami mengetahui betul bahwa kelanjutan status quo tidak dapat ditoleransi oleh Amerika; sementara kami bahkan belum memulai," ujar Ghalibaf dalam pernyataan yang diunggah melalui media sosial X. Pernyataan ini menjadi sinyal bahwa Iran belum akan mundur, meskipun tekanan militer dari AS dan sekutunya terus meningkat.

Dampak Konflik yang Meluas

Baik Iran maupun AS sama-sama mengklaim telah melancarkan serangan di Selat Hormuz sebagai bagian dari upaya mengendalikan jalur perairan yang menjadi urat nadi pasokan minyak dan gas global. Kedua negara bahkan telah memberlakukan blokade maritim di perairan tersebut selama beberapa waktu terakhir. Konflik yang telah berlangsung lebih dari dua bulan antara Iran melawan AS dan Israel ini tidak hanya menyulut api peperangan di Timur Tengah, tetapi juga mengguncang perekonomian global. Dampaknya terasa hingga ke ratusan juta orang di berbagai belahan dunia, meskipun sempat ada harapan gencatan senjata dalam beberapa pekan terakhir. Di lapangan, ketegangan di Selat Hormuz masih menjadi titik rawan yang bisa sewaktu-waktu memicu ledakan konflik berskala lebih besar. Para pengamat menilai bahwa peringatan dari Ghalibaf ini merupakan bentuk tekanan diplomatik sekaligus ancaman tersirat bahwa Iran memiliki opsi militer yang belum sepenuhnya dimainkan.

Editor: Joko Susilo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar