Said Didu Sebut Kelompok Pendukung Jokowi, Bukan Oposisi, yang Ingin Jatuhkan Prabowo

- Kamis, 07 Mei 2026 | 22:50 WIB
Said Didu Sebut Kelompok Pendukung Jokowi, Bukan Oposisi, yang Ingin Jatuhkan Prabowo

PARADAPOS.COM - Mantan Sekretaris Kementerian BUMN, Said Didu, melontarkan pernyataan mengejutkan dalam sebuah diskusi publik di Jakarta. Ia menuding bahwa pihak yang sesungguhnya ingin menjatuhkan Presiden Prabowo Subianto bukanlah oposisi, melainkan kelompok pendukung setia Presiden ke-7 Joko Widodo, yang ia sebut sebagai Jokower. Tudingan ini disampaikan dalam diskusi bertajuk “Apakah Gerakan Pemakzulan Prabowo Itu Realistis?” yang digelar di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, pada Kamis, 7 Mei 2026.

Suasana diskusi berlangsung hangat. Said Didu, yang dikenal sebagai pengamat kebijakan publik, tampak lantang menyuarakan analisisnya di hadapan para peserta. Menurutnya, kelompok Jokower tengah diliputi kemarahan karena kebijakan Prabowo mulai menyentuh kepentingan oligarki, terutama dalam penertiban kawasan hutan, perkebunan sawit, dan sektor pertambangan.

Pemicu Kemarahan Jokower

“Yang mau menjatuhkan Prabowo adalah Jokower dan gerombolan yang ada dalam pemerintah,” ujar Said Didu di hadapan audiens. Ia menambahkan bahwa kelompok ini merasa terusik ketika Prabowo mulai melakukan langkah-langkah yang mengancam kepentingan ekonomi para penguasa sumber daya alam.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa praktik oligarki selama ini telah merugikan negara secara sistematis. “Pelindung oligarki ini merampok negara dengan tiga cara sekaligus,” ungkapnya, tanpa merinci lebih jauh ketiga modus yang dimaksud. Pernyataan ini sontak mengundang perhatian peserta diskusi yang hadir.

Empat Nama di Ring Satu Kekuasaan

Said Didu juga menyoroti komposisi orang-orang dekat Presiden Prabowo. Ia menyebut setidaknya ada empat nama yang berada di lingkaran dalam kekuasaan dan dinilai sebagai loyalis Jokowi. Keempatnya adalah Sekretaris Kabinet Teddy, Kepala Staf Kepresidenan Jenderal TNI (Purn) Dudung Abdurachman, Kepala Badan Komunikasi Muhammad Qodari, serta Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi Hasan Nasbi.

“Coba bayangkan 3-4 Jokower ditempatkan. Satu Teddy, dua Dudung, tiga Qodari, empat Hasan Nasbi,” tuturnya sambil menekankan bahwa penempatan figur-figur tersebut bukanlah kebetulan belaka. Menurutnya, keberadaan mereka di posisi strategis menjadi celah bagi kelompok tertentu untuk memengaruhi arah kebijakan pemerintah.

Pernyataan Said Didu ini tentu memicu beragam reaksi. Di satu sisi, ada yang menilai analisisnya sebagai bentuk kewaspadaan terhadap dinamika politik di dalam istana. Di sisi lain, tak sedikit yang mempertanyakan validitas klaim tersebut. Namun, yang jelas, diskusi di Menteng itu kembali membuka tabir perang kepentingan di balik gemerlapnya kursi kekuasaan.

Editor: Yuli Astuti

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar