Rupiah Tembus Rp 18.000 per Dolar AS, BI Buka Suara soal Pemicu dan Langkah Intervensi

- Kamis, 04 Juni 2026 | 13:50 WIB
Rupiah Tembus Rp 18.000 per Dolar AS, BI Buka Suara soal Pemicu dan Langkah Intervensi
PARADAPOS.COM - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali terperosok ke level psikologis Rp 18.000-an pada Kamis, 4 Juni 2026. Bank Indonesia (BI) langsung buka suara, menyebut eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah sebagai biang kerok utama pelemahan ini. Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengonfirmasi bahwa tensi panas di kawasan tersebut membuat harga minyak dunia bertahan tinggi, memicu risiko inflasi global, dan mendorong investor menarik modal dari negara berkembang, termasuk Indonesia.

Intervensi Agresif di Pasar Keuangan

Menghadapi tekanan ini, BI tidak tinggal diam. Otoritas moneter mengaku telah meningkatkan frekuensi dan intensitas intervensi di pasar. Langkah ini diambil untuk memastikan mekanisme pasar tetap berjalan wajar dan stabilitas rupiah tidak tergerus lebih dalam. "Bank Indonesia akan terus hadir di pasar dan meningkatkan intensitas intervensi untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan stabilitas nilai tukar rupiah terjaga sesuai dengan fundamentalnya," ujar Destry pada Kamis, 4 Juni 2026. Pernyataan itu disampaikan saat rupiah sudah berada di zona merah. Mengacu pada data Bloomberg pagi itu juga, rupiah diperdagangkan di level Rp 18.023 per dolar AS. Angka ini menunjukkan pelemahan sebesar 57 poin jika dibandingkan dengan posisi penutupan perdagangan sehari sebelumnya.

Strategi Ganda: Suku Bunga dan Instrumen Baru

Tidak hanya intervensi langsung, BI juga menyiapkan bantalan lain. Destry menjelaskan bahwa pihaknya akan memperkuat struktur suku bunga instrumen moneter yang pro-market. Tujuannya jelas: menjaga daya tarik aset domestik di mata investor asing agar aliran modal masuk tidak tersendat. Selain itu, bank sentral terus menggencarkan transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, serta transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik. Pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder juga tetap menjadi salah satu senjata andalan. "Koordinasi dan komunikasi dengan korporasi dan pelaku pasar lainnya terus dilakukan secara intensif," tegasnya.

Mengurangi Ketergantungan pada Dolar AS

Dalam jangka panjang, BI juga mendorong diversifikasi transaksi internasional. Salah satu upaya yang terus diperkuat adalah skema Local Currency Transaction (LCT) atau penggunaan mata uang lokal dalam kerja sama bilateral. Langkah ini dinilai strategis untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dan memitigasi risiko fluktuasi nilai tukar. Hingga saat ini, kerja sama LCT telah terjalin dengan sejumlah negara mitra dagang utama, seperti Tiongkok, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab. Hasilnya pun mulai terlihat. Pada bulan April 2026 saja, volume transaksi LCT mencapai sekitar 22,7 miliar. Angka ini hampir menyamai total realisasi sepanjang tahun lalu yang berada di kisaran 25,7 miliar.

Pelemahan Regional dan Ketahanan Eksternal

Meski tekanan terhadap rupiah terasa berat, BI menilai situasi ini tidak sepenuhnya spesifik Indonesia. Secara umum, pelemahan rupiah masih sejalan dengan pergerakan mata uang negara-negara lain di kawasan Asia. Sejak awal tahun hingga saat ini (year to date/YTD), rupiah tercatat melemah sekitar 7,44 persen. Meski demikian, optimisme tetap dijaga. BI menegaskan bahwa kondisi ketahanan eksternal Indonesia masih cukup solid. Salah satu indikatornya adalah posisi cadangan devisa yang tetap tinggi. "Cadangan devisa tetap terjaga di level USD146,2 miliar pada akhir April 2026," ungkap Destry. Angka tersebut diyakini masih memadai untuk mengantisipasi gejolak eksternal dan menjaga kepercayaan pasar terhadap fundamental ekonomi nasional.

Editor: Dian Lestari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Tags