PARADAPOS.COM - Sistem pertahanan udara Kuwait dikerahkan untuk mencegat rudal dan drone yang disebut sebagai ancaman dari pihak musuh pada Sabtu. Di saat yang bersamaan, Bahrain mengaktifkan sirene darurat dan meminta warganya segera mencari perlindungan. Langkah ini diambil di tengah meningkatnya ketegangan regional setelah serangan udara Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari lalu, yang kemudian memicu aksi balasan dari Teheran.
Intersepsi di Langit Kuwait
Militer Kuwait, melalui pernyataan resmi di platform X, menegaskan bahwa suara ledakan yang terdengar oleh warga bukanlah serangan langsung. Staf Umum Angkatan Bersenjata menjelaskan bahwa suara tersebut berasal dari proses pencegatan target udara.
“Setiap ledakan yang mungkin terdengar merupakan hasil intersepsi sistem pertahanan udara terhadap target musuh,” demikian bunyi pernyataan tersebut. Pihak militer juga mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan mematuhi seluruh instruksi keselamatan yang telah dikeluarkan oleh otoritas setempat.
Sirene Darurat di Bahrain
Sementara itu, situasi serupa terjadi di Bahrain. Kementerian Dalam Negeri Bahrain mengonfirmasi bahwa sirene darurat telah diaktifkan di sejumlah wilayah. Imbauan resmi pun langsung disebarluaskan melalui kanal media sosial kementerian.
“Warga negara dan penduduk diminta tetap tenang dan menuju tempat aman terdekat,” tulis kementerian dalam unggahannya di platform X. Suasana di kota-kota utama Bahrain dilaporkan sempat tegang, namun belum ada laporan mengenai korban jiwa atau kerusakan signifikan.
Latar Ketegangan yang Meluas
Ketegangan di kawasan Teluk sebenarnya sudah menunjukkan eskalasi sejak beberapa pekan terakhir. Semuanya bermula ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara terhadap Iran pada akhir Februari lalu. Operasi itu langsung mendapat respons keras.
Iran kemudian membalas dengan menyerang Israel dan negara-negara yang dinilai menjadi tuan rumah pangkalan militer AS di kawasan. Selain itu, jalur pelayaran di Selat Hormuz—yang merupakan rute vital perdagangan energi global—juga ikut terganggu. Meskipun sempat ada kesepakatan gencatan senjata, upaya diplomatik untuk mencapai resolusi yang lebih luas hingga kini masih terus berlangsung tanpa titik terang yang jelas.
Editor: Laras Wulandari
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Mensesneg Bantah Pemerintah Lamban Respons Pelemahan Rupiah, Klaim Koordinasi Ekonomi Sudah Intensif
Pigai Dorong Sipil Isi Jabatan Strategis di Polri dalam Revisi UU Kepolisian
AS Serang Radar Iran di Dekat Selat Hormuz, Gencatan Senjata Kian Terancam
Polri Integrasikan ETLE Drone dalam Operasi Patuh 2026 untuk Pengawasan Lalu Lintas dari Udara