PARADAPOS.COM - Jakarta, 20 Juni 2026. Sebanyak 12.000 pengungsi dan pencari suaka dari lebih dari 50 negara, termasuk Afghanistan, Myanmar, Somalia, dan Yaman, saat ini berada di Indonesia. Mereka hidup dalam ketidakpastian, ada yang sudah lebih dari satu dekade, menunggu solusi jangka panjang. Peringatan Hari Pengungsi Sedunia 2026 menjadi momentum bagi UNHCR untuk menyoroti tantangan pengungsian berkepanjangan dan mengapresiasi komitmen kemanusiaan Indonesia yang dinilai telah memberikan rasa aman bagi mereka yang terpaksa meninggalkan tanah air.
Ketika pertama kali tiba di Indonesia beberapa tahun lalu, Amed merasa masa depannya seakan terhenti. Konflik di Somalia memaksanya mengungsi, menjalani hari-hari yang penuh dengan ketidakpastian. Kisah serupa juga dialami Amina. Kekerasan di negaranya, Afghanistan, memaksanya meninggalkan kehidupan yang ia kenal dan memulai lembaran baru di negara yang asing.
Kedua nama ini hanyalah dua dari ribuan wajah pengungsi yang kini menetap sementara di Indonesia. Mereka datang dari latar belakang konflik dan penganiayaan, membawa harapan akan kehidupan yang lebih aman.
Beban Pengungsian Berkepanjangan
Pada peringatan Hari Pengungsi Sedunia tahun ini, UNHCR menyoroti realitas pahit yang dihadapi banyak pengungsi. Menurut Laporan Global Trends UNHCR, tujuh dari sepuluh pengungsi di seluruh dunia hidup dalam kondisi pengungsian jangka panjang. Mereka menghabiskan bertahun-tahun jauh dari rumah, menunggu solusi yang tak kunjung tiba.
“Komitmen kemanusiaan Indonesia selama ini telah memberikan rasa aman dan harapan bagi orang-orang yang terpaksa mengungsi, sekaligus menunjukkan pentingnya tanggung jawab bersama,” ujar Hendrik Therik, juru bicara UNHCR di Indonesia.
“Solidaritas yang ditunjukkan berbagai pihak membuktikan bahwa perlindungan dapat diwujudkan melalui kolaborasi, kepedulian, dan tindakan nyata,” sambungnya.
Fakta lain yang tak kalah mencengangkan, negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah kini menampung 68 persen pengungsi dan orang-orang yang membutuhkan perlindungan internasional. Bantuan kemanusiaan memang menyelamatkan nyawa, namun belum cukup untuk membangun kembali masa depan mereka. Di Indonesia, situasi serupa terjadi. Banyak pengungsi telah tinggal selama bertahun-tahun, bahkan lebih dari satu dekade, dalam limbo.
“Bagi para pengungsi, menunggu selama bertahun-tahun berarti terus kehilangan kesempatan. Hal itu membuat mereka putus asa dan kecewa. Namun ketika diberikan kesempatan untuk memanfaatkan keterampilan, melanjutkan pendidikan, menjadi sukarelawan, dan berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat, semua pihak akan diuntungkan,” kata Emily Bojovic, Senior Protection Officer UNHCR Indonesia.
Dari Sekadar Bertahan Menuju Kehidupan Mandiri
Di tengah keterbatasan, semangat untuk bangkit tetap menyala. Kini, Amed mendirikan sebuah organisasi komunitas yang dipimpin oleh pengungsi. Tujuannya membantu sesama pengungsi menyesuaikan diri dengan kehidupan di Indonesia, serta menyediakan kegiatan belajar informal untuk anak-anak pengungsi. Sementara itu, Amina, yang berasal dari Afghanistan, bukan hanya seorang ibu dan istri. Ia juga seorang pelatih karate yang membantu anggota komunitasnya membangun kepercayaan diri dan ketangguhan.
Organisasi yang dipimpin oleh pengungsi ini turut berkontribusi menyediakan program pendidikan informal, pelatihan keterampilan, dukungan psikososial, kegiatan olahraga, dan berbagai inisiatif komunitas. Semua ini membantu pengungsi menghadapi tantangan dan membangun kohesi sosial di lingkungan baru mereka.
“Di UNHCR, kami melihat betapa besar dampaknya ketika para pengungsi punya kesempatan mewujudkan potensi dan berkontribusi bagi komunitas di sekitar mereka,” tambah Emily.
Meski ada sosok seperti Amed dan Amina yang bisa berkembang, masih banyak pengungsi rentan yang berjuang untuk keluar dari ‘sekadar bertahan hidup’ menuju kehidupan yang lebih mandiri dan berdaya. Pengungsian memang dapat mengubah jalan hidup seseorang, tapi seharusnya tidak menghilangkan kemampuan untuk belajar, memimpin, dan saling mendukung. Ketika diberikan rasa aman, empati, dan kesempatan, para pengungsi dapat berkontribusi, membangun hubungan, dan memperkuat komunitas di sekitar mereka.
75 Tahun Konvensi Pengungsi: Sebuah Janji Universal
Hari Pengungsi Sedunia merupakan momentum untuk menghormati keberanian dan martabat para pengungsi, sekaligus mengapresiasi mereka yang terus menunjukkan solidaritas. Peringatan tahun ini punya makna khusus karena bertepatan dengan 75 tahun Konvensi Pengungsi 1951.
“75 tahun yang lalu, dari puing-puing perang Dunia Kedua, dunia membuat sebuah janji fundamental: siapa pun yang terpaksa melarikan diri dari perang, konflik, atau penganiayaan berhak mendapatkan keselamatan dan perlindungan,” kata Barham Salih, High Commissioner UNHCR.
“Janji tersebut bersifat universal dan dirancang untuk bertahan lintas generasi. Janji itu dibuat untuk kakek-nenek kita, untuk kita, dan untuk generasi yang akan datang,” lanjutnya.
Bagi hampir 42 juta pengungsi di seluruh dunia, meninggalkan rumah bukanlah pilihan, melainkan keterpaksaan. Di tengah tekanan terhadap hak mencari suaka di berbagai belahan dunia, UNHCR menyampaikan apresiasi kepada Indonesia.
“Bagi ribuan pengungsi yang telah mencari perlindungan di Indonesia selama beberapa dekade, Indonesia telah dan tetap menjadi simbol kemanusiaan,” pungkas Hendrik.
“One Goal: Safety for All”
Dalam rangka memperingati Hari Pengungsi Sedunia 2026 di Indonesia, UNHCR bekerja sama dengan berbagai organisasi masyarakat sipil. Mitra yang terlibat antara lain Refu ure Indonesia, Jesuit Refugee Service Indonesia, Yayasan Cita Wadah Swadaya, Bridges for Hope, Islamic Relief Indonesia, serta sejumlah organisasi yang dipimpin oleh pengungsi, komunitas, dan seniman pengungsi. Acara publik bertema “One Goal: Safety for All” ini diselenggarakan di Galeri Oesman Effendi, Taman Ismail Marzuki, pada 20 Juni 2026.
Acara ini menghadirkan pameran seni, pertunjukan dari pengungsi, bazar, diskusi, dan aktivitas interaktif. Masyarakat memiliki kesempatan untuk bertemu langsung dengan para pengungsi dan mendengarkan pengalaman mereka. Tujuannya bukan hanya meningkatkan pemahaman publik, tetapi juga membangun hubungan yang lebih bermakna antara pengungsi dan masyarakat Indonesia.
Banyak pengungsi menyampaikan bahwa tantangan terbesar yang mereka hadapi bukan hanya ketidakpastian mengenai masa depan, tetapi juga keterasingan dari kehidupan sehari-hari. Melalui percakapan, aktivitas bersama, dan pertukaran budaya, acara ini diharapkan bisa menciptakan ruang di mana orang dapat saling mengenal bukan berdasarkan label atau status, melainkan sebagai sesama manusia.
Seorang pengungsi menyampaikan, “Sebagai pengungsi, rasa keterasingan kami berkurang ketika masyarakat Indonesia menyapa kami dengan senyum dan mengajak kami berbagi momen-momen sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Mari duduk bersama kami. Cicipi makanan kami. Dengarkan cerita kami secara langsung. Bermain sepak bola bersama kami.”
Pesan tersebut mencerminkan semangat kampanye tahun ini: bahwa inklusivitas dimulai ketika orang-orang saling bertemu, mengenal, dan membangun hubungan hingga semua orang merasa aman. Hari Pengungsi Sedunia mengingatkan bahwa keselamatan bukan sekadar terbebas dari bahaya. Keselamatan juga berarti memiliki kesempatan untuk menjadi bagian dari masyarakat, berpartisipasi, dan berkontribusi.
UNHCR mengajak pemerintah, organisasi masyarakat sipil, sektor swasta, institusi pendidikan, organisasi keagamaan, media, jurnalis, dan masyarakat luas untuk terus bekerja sama. Tujuannya mewujudkan masa depan di mana setiap orang dapat hidup dengan aman dan mengembangkan potensinya, apa pun latar belakang dan status mereka.
Artikel Terkait
Gala Premiere Film Pendek “Rumah Kedua” Digelar di Bali, Angkat Dilema Perantau antara Mimpi dan Keluarga
Perundingan Iran-AS 2026: Peluang Besar Pemulihan Ekonomi Teheran di Tengah Negosiasi Pelonggaran Sanksi
Satgas Damai Cartenz Tangkap Anggota KKB HSSBI di Yahukimo
Blok M Jadi Surga Belanja Merchandise K-Pop Murah, Harga Mulai Rp5.000