Ribuan Warga Albania Berbulan-bulan Berdemo Tolak Proyek Resor Terkait Keluarga Trump di Cagar Alam

- Minggu, 21 Juni 2026 | 06:25 WIB
Ribuan Warga Albania Berbulan-bulan Berdemo Tolak Proyek Resor Terkait Keluarga Trump di Cagar Alam
PARADAPOS.COM - Ribuan warga Albania terus memadati jalan-jalan utama Tirana sejak akhir Mei, menolak rencana pembangunan resor mewah yang terkait dengan keluarga Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Proyek yang melibatkan Ivanka Trump dan suaminya, Jared Kushner, di kawasan cagar alam pesisir itu memicu kemarahan publik yang meluas. Aksi yang awalnya merupakan protes lingkungan kini menjelma menjadi tuntutan politik: Perdana Menteri Edi Rama harus mundur.

Akar Kemarahan: Proyek Mewah di Cagar Alam

Unjuk rasa yang dimulai hampir tiga minggu lalu ini terus membesar dari malam ke malam. Warga berkumpul di pusat kota, menentang pembangunan hotel mewah yang direncanakan di kawasan lindung pesisir negara Balkan tersebut. Proyek ini secara langsung dikaitkan dengan Ivanka Trump dan Jared Kushner, yang memicu kecurigaan publik akan adanya pengaruh asing dan praktik tidak transparan. Penentangan terhadap proyek itu bukanlah sekadar soal lingkungan. Bagi banyak warga, ini adalah puncak dari frustrasi yang sudah lama terpendam terhadap dugaan korupsi yang meluas di pemerintahan. "Kami tidak menentang pembangunan negara; kami menentang kesombongan dan kurangnya transparansi seputar proyek-proyek yang memengaruhi kehidupan kami," ujar Alma, seorang mahasiswa Fakultas Sains yang ikut dalam aksi tersebut.

Gelombang Diaspora dan Simbol Perlawanan

Aksi demonstrasi mendapat suntikan energi dari kedatangan diaspora Albania dalam jumlah besar. Mereka sengaja terbang pulang ke tanah air untuk bergabung dengan para pengunjuk rasa. Pemandangan bendera Albania dan Amerika berkibar bersamaan menjadi pemandangan umum di lokasi aksi. Balon-balon merah dilepaskan ke udara sebagai simbol peringatan akan bahaya yang mengancam alam dan masa depan negara. Para demonstran dengan lantang menyatakan akan terus bertahan di jalanan hingga Perdana Menteri Rama mengundurkan diri. Slogan "Albania tidak untuk dijual" bahkan diproyeksikan dengan cahaya ke dinding gedung kantor Perdana Menteri, menjadi pesan visual yang sulit diabaikan.

Tuduhan Kurangnya Transparansi

Inti dari kemarahan demonstran adalah tuduhan bahwa pemerintah Rama tidak membuka informasi secara utuh mengenai proyek-proyek pembangunan di pesisir. Warga menuntut kejelasan mengenai proses perizinan, dampak lingkungan, dan keterlibatan pihak-pihak terkait. Tanpa transparansi, mereka khawatir kekayaan alam Albania akan dikorbankan demi kepentingan segelintir elit.

Editor: Clara Salsabila

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar