PARADAPOS.COM - Presiden terpilih Kolombia dari kubu sayap kanan garis keras, Abelardo de la Espriella, mengumumkan calon menteri dalam negerinya pada Jumat lalu. Pilihan itu jatuh kepada Rodrigo Lara, seorang mantan anggota parlemen yang ayahnya dibunuh oleh gembong narkoba legendaris, Pablo Escobar. De la Espriella sendiri baru saja memenangkan pemilu putaran kedua dengan margin tipis, kurang dari satu persen suara.
Latar Belakang Sang Calon Menteri
Rodrigo Lara bukanlah nama asing dalam panggung politik Kolombia. Ayahnya, Rodrigo Lara Bonilla, pernah menjabat sebagai Menteri Kehakiman pada 1984. Namun, di tahun yang sama, ia ditembak mati di Bogota atas perintah Pablo Escobar. Saat itu, kartel narkoba tengah berkonfrontasi terbuka dengan negara dalam upaya menggagalkan ekstradisi anggota mereka ke Amerika Serikat.
Saat peristiwa tragis itu terjadi, Rodrigo Lara masih berusia delapan tahun. Ia dan keluarganya kemudian memilih mengasingkan diri ke Eropa dan menghabiskan beberapa tahun di luar negeri sebelum akhirnya kembali ke tanah air.
Janji Politik dan Kabinet Perdana
Dalam pengumuman kabinet pertamanya, De la Espriella menyampaikan pesan melalui unggahan di media sosial X. Unggahan itu disertai video yang dihasilkan oleh kecerdasan buatan (AI).
"Dia yang tidak pernah berhenti bekerja untuk Tanah Airnya, meskipun telah menjadi korban kekerasan (Pablo Escobar)," tulis De la Espriella dalam unggahan tersebut.
De la Espriella sebelumnya telah menyampaikan janji politiknya untuk bertindak tegas terhadap kejahatan. Ia dijadwalkan resmi menjabat pada bulan Agustus mendatang.
Pengalaman Rodrigo Lara di Panggung Politik
Sebelum ditunjuk sebagai calon menteri dalam negeri, Rodrigo Lara pernah menjabat sebagai kepala pemberantasan korupsi di bawah mantan presiden garis keras Alvaro Uribe. Selama menjadi anggota parlemen, ia dikenal aktif mempromosikan kebijakan terkait perjanjian damai bersejarah dengan kelompok pemberontak FARC yang kini sudah bubar.
Menariknya, perjanjian damai tersebut justru dikritik keras oleh De la Espriella selama masa kampanye. Presiden terpilih itu bahkan pernah mengatakan kepada AFP bahwa ia ingin membom banyak kelompok bersenjata di negaranya dan membangun "penjara-penjara raksasa."
Pesan Persatuan di Tengah Kontroversi
Di tengah perbedaan pandangan politik yang tajam antara De la Espriella dan Rodrigo Lara, terutama soal perjanjian damai dengan FARC, presiden terpilih itu tetap menegaskan semangat kebersamaan.
"Kita akan membuat kesepakatan besar tentang hal-hal mendasar yang menyatukan kita," tulis De la Espriella di akun media sosialnya.
Editor: Rico Ananda
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Harga Minyak Dunia Anjlok ke Level Terendah Sejak Sebelum Konflik Timur Tengah
Gedung Grahadi Kembali Dirusak Massa Saat Renovasi Pascakebakaran Belum Tuntas, Pemprov Jatim Kecam Aksi Anarkis
Prancis Sempurna di Fase Grup Piala Dunia 2026, Norwegia Tempati Runner-Up
Berlayar dengan Kapal Layar Tradisional, Aqua Luna Tawarkan Perspektif Baru Victoria Harbour Hong Kong