PARADAPOS.COM - Lembaga survei Media Survei Nasional (Median) merilis hasil survei terbaru yang mengukur elektabilitas sejumlah tokoh nasional dalam simulasi pemilihan presiden. Survei yang digelar pada 10-14 Februari 2026 itu menempatkan Presiden Prabowo Subianto di posisi puncak dengan perolehan 29 persen, diikuti oleh Anies Baswedan (20,6%) dan Dedi Mulyadi (17%). Hasil ini memberikan gambaran awal tentang peta persaingan politik di ruang digital menjelang periode politik mendatang.
Prabowo Unggul, Anies dan Dedi Membayangi
Dalam rilis tersebut, elektabilitas Presiden Prabowo Subianto terlihat masih cukup kokoh. Analisis dari lembaga survei menyebutkan bahwa posisinya relatif kuat dalam persepsi publik yang aktif secara digital. Jarak angka antara ketiga nama teratas ini mengindikasikan adanya kompetisi yang cukup ketat di tingkat elite.
Direktur Eksekutif Median, Rico Marbun, menjelaskan metodologi pertanyaan yang diajukan kepada responden. "Ketika mengajukan pertanyaan kepada responden, jika pemilu presiden diadakan saat ini, siapa tokoh yang akan Anda pilih menjadi Presiden Republik Indonesia?" ujarnya.
Rico kemudian memaparkan temuan inti dari survei tersebut. "Hasilnya posisi Prabowo tetap relatif kuat di ruang persepsi publik digital," jelasnya melalui keterangan tertulis yang dikutip Selasa, 24 Februari 2026.
Kompetisi di Papan Atas dan Tokoh Lainnya
Di belakang tiga besar, sejumlah nama lain mencatatkan elektabilitas dalam satu digit. Ganjar Pranowo berada di posisi keempat dengan 5,2 persen, disusul oleh Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebesar 4,2 persen, dan Purbaya Yudhi Sadewa dengan 4 persen. Gibran Rakabuming Raka memperoleh 2,6 persen, sementara Mahfud MD berada di angka 1,2 persen. Pramono Anung dan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) masing-masing meraih 1 persen.
Rico Marbun memberikan catatan penting mengenai interpretasi hasil ini. "Jarak elektabilitas antara tiga besar ini menunjukkan adanya kompetisi yang cukup terbuka di papan atas," tuturnya.
Beberapa tokoh lain seperti Joko Widodo, Sjafrie Sjamsoeddin, Susilo Bambang Yudhoyono, dan Rocky Gerung tercatat memperoleh elektabilitas di bawah 1 persen. Sebanyak 8,2 persen responden memilih untuk tidak tahu atau tidak menjawab.
Metodologi dan Cakupan Survei
Survei ini dilaksanakan dengan metode tertentu yang perlu diperhatikan untuk memahami konteks datanya. Rico Marbun menegaskan bahwa pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner berbasis Google Form yang disebarkan melalui berbagai platform media sosial. Target responden adalah pengguna aktif berusia 17 tahun hingga di atas 60 tahun, dengan distribusi proporsional di seluruh wilayah Indonesia. Jumlah sampel yang ditargetkan mencapai 1.200 orang.
Pendekatan ini, meskipun menjangkau responden secara nasional, memiliki karakteristik spesifik. Hasilnya terutama merefleksikan suara dan persepsi dari kalangan masyarakat yang aktif di dunia maya.
Rico memberikan penekanan pada konteks temuan ini. “Temuan ini memberikan gambaran tentang dinamika opini publik di kalangan pengguna media sosial, yang saat ini menjadi salah satu arena penting dalam pembentukan persepsi politik,” pungkasnya.
Dengan demikian, survei Median ini tidak hanya memotret angka elektabilitas, tetapi juga menyoroti peran ruang digital sebagai medan baru tempat opini politik publik mulai terbentuk dan dapat diukur.
Artikel Terkait
Pegiat Medsos Pertanyakan Keabsahan Fotokopi Ijazah Jokowi Saat Daftar Pilkada Solo
Hinca Panjaitan Ingatkan PSI Tak Ikut Pembahasan Awal Revisi UU KPK
Pengamat: Satire Digital Tembok Ratapan Solo Ancam Citra dan Elektabilitas PSI
Pengamat Nilai Pernyataan Jokowi Soal Revisi UU KPK 2019 Sebagai Sinyal Politik