PARADAPOS.COM - Mantan Sekretaris Kementerian BUMN Said Didu menyindir permintaan maaf yang disampaikan Rismon Sianipar, penggugat keaslian ijazah mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Melalui sebuah perumpamaan tentang proses pemurnian intan, Didu menyampaikan pesan bahwa perjuangan memerlukan seleksi ketat untuk mencapai kemurnian dan kualitas tertinggi. Sindiran ini ia sampaikan melalui akun media sosial pribadinya pada Kamis, 12 Maret 2026.
Perumpamaan Intan sebagai Metafora Perjuangan
Dalam unggahannya, Said Didu memulai dengan menggambarkan proses panjang yang dialami sebuah intan sebelum menjadi perhiasan bernilai tinggi. Proses itu, menurutnya, penuh dengan tahapan penyaringan yang ketat dan tak kenal kompromi.
"Intan berkualitas tinggi diperoleh dari hasil asahan yang membuang batu dan intan yang jelek," ungkapnya.
Ia kemudian merinci tahapan seleksi tersebut, yang dimulai dari membuang material yang sama sekali bukan intan, hingga menyaring intan-intan yang dianggap kurang sempurna.
"Yang dibuang pertama adalah bongkahan batu, dilanjutkan dengan membuang intan yang karatnya lebih rendah dan cacat. Intan yang tersisa, kadar atau karatnya sudah tinggi dan sama," jelas mantan birokrat tersebut.
Pemurnian Akhir dan Harga yang Harus Dibayar
Menurut Didu, untuk mencapai standar tertinggi, proses pemurnian harus berjalan hingga tahap akhir yang paling teliti. Pada titik ini, bahkan intan berkadar tinggi pun bisa saja terbuang demi menjaga kemurnian dan keseragaman kualitas.
"Untuk mendapatkan intan terbaik harus karat tertinggi, seragam, dan tidak ada cacat," sambungnya. "Dengan terpaksa, saat pemurnian terakhir maka intan kadar tinggi terpaksa harus dibuang/terbuang. Itulah cara mendapatkan intan murni, kadar tinggi, dan tidak ada cacat, inilah harga yang terbaik," tuturnya.
Dari analogi yang rinci ini, terlihat bagaimana Didu membangun narasi bahwa setiap perjuangan besar, termasuk perjuangan yang dianggapnya idealis, harus melalui fase penyaringan internal yang keras.
Konteks Sindiran terhadap Dinamika Gugatan Ijazah
Metafora panjang tentang intan itu secara jelas ditujukan untuk membaca dinamika terkini di sekitar gugatan keaslian ijazah mantan Presiden Jokowi. Said Didu meyakini bahwa persoalan yang terjadi, termasuk permintaan maaf dari salah satu penggugat, merupakan bagian dari proses "pemurnian" dalam sebuah perjuangan panjang.
"Begitulah gambaran seleksi perjuangan, termasuk para pejuang keaslian ijazah Jokowi," ucapnya.
Pesan penutupnya berusaha memberikan penegasan dan semangat. Didu menyerukan agar tidak ada rasa sedih atas perubahan sikap atau "kepergian" beberapa pihak dari barisan perjuangan, karena hal itu dianggapnya sebagai suatu keniscayaan dalam proses peningkatan kualitas perjuangan itu sendiri.
"Jangan ada yang sedih. Kepergian beberapa teman seperjuangan adalah proses pencarian peningkatan pemurnian perjuangan, sejarah akan mencatat," demikian Said Didu menutup pernyataannya.
Sindiran yang disampaikan melalui analogi ini mencerminkan pandangan bahwa dalam setiap gerakan, konsistensi dan ketahanan menghadapi ujian internal adalah kunci untuk mencapai tujuan yang murni dan tercatat dalam sejarah.
Artikel Terkait
Ahli Forensik Rismon Sianipar Temui Jokowi, Akui Ijazah Asli dan Minta Maaf
Video Viral Pickup India untuk Koperasi Merah Putih Muncul di Sukabumi, Pemerintah Belum Beri Penjelasan
KPK Tangkap Bupati dan Wakil Bupati Rejang Lebong dalam OTT
Presiden Prabowo Kritik Kinerja Sebagian Pejabat di Tengah Tantangan Global