Miliarder Dubai Kritik AS Tangkap Maduro: "Apa Hak Amerika Serang Negara Berdaulat?"
Seorang miliarder terkemuka asal Dubai menyatakan keterkejutannya atas tindakan Amerika Serikat yang menyerang dan menangkap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro. Khalaf Al Habtoor, ketua Al Habtoor Group, secara terbuka mempertanyakan legitimasi tindakan AS tersebut.
"Siapa yang memberikan izin kepada Amerika? Apa hak Amerika untuk menyerang negara berdaulat?" tanya Al Habtoor, seperti dikutip dari Khaleej Times.
Ia menyoroti pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengumumkan penangkapan Maduro dan rencana AS untuk mengambil alih pemerintahan Venezuela. Al Habtoor heran dengan logika di balik keputusan yang ia anggap semena-mena itu.
"Bagaimana mungkin sebuah negara dengan 30 juta penduduk dikuasai oleh sebuah keputusan? Apakah kedaulatan negara telah menjadi hal yang sepele?" lanjutnya dalam unggahan di media sosial.
Peringatan Bahaya Pelanggaran Kedaulatan
Al Habtoor menegaskan bahwa ini bukan sekadar perselisihan politik, melainkan masalah etika dan kemanusiaan. Ia mempertanyakan peran komunitas internasional dan PBB dalam menyikapi aksi AS tersebut.
"Hal paling berbahaya adalah pelanggaran kedaulatan ini telah membuka pintu. Tidak ada yang tahu ke mana ini akan membawa dunia," paparnya sebagai peringatan.
Profil Khalaf Al Habtoor: Miliarder dan Filantropis yang Vokal
Khalaf Al Habtoor dikenal sebagai figur publik yang aktif menyuarakan isu politik, sosial, dan moral, baik tingkat lokal maupun global. Ia rutin mengadakan forum di Dubai untuk membahas berbagai isu terkini.
Pada Oktober 2025, ia pernah menulis surat terbuka kepada Presiden AS berisi proposal rencana rekonstruksi Gaza. Baru-baru ini, ia juga vokal mendorong pemuda Emirat untuk menikah demi kelangsungan dan kohesi sosial masyarakat.
Artikel Terkait
Trump Serukan Deportasi Dua Anggota Kongres Demokrat Usai Ricuh di Pidato Kenegaraan
Iran Tuduh AS dan Israel Gunakan Propaganda Nazi Jelang Perundingan Nuklir
Analisis Israel Peringatkan Ancaman Baru dari Blok Sunni yang Dipimpin Turki-Mesir
Dewan Perdamaian AS Kecualikan Israel dari Iuran Miliaran Dolar, Pengamat Soroti Ketimpangan