Panglima AD Iran Peringatkan AS: Tak Ada yang Selamat Jika Ada Invasi Darat

- Jumat, 03 April 2026 | 06:50 WIB
Panglima AD Iran Peringatkan AS: Tak Ada yang Selamat Jika Ada Invasi Darat

PARADAPOS.COM - Panglima Angkatan Darat Iran, Amir Hatami, mengeluarkan peringatan keras bahwa tidak ada pasukan musuh yang akan dibiarkan selamat jika Amerika Serikat memutuskan untuk melancarkan invasi darat ke negaranya. Peringatan ini disampaikan menyusul laporan media AS yang mengungkapkan bahwa Pentagon tengah mempertimbangkan opsi operasi darat di Iran, sebuah eskalasi yang berpotensi membuka fase konflik yang jauh lebih berbahaya di Timur Tengah.

Peringatan Tegas dari Pimpinan Militer

Dalam siaran televisi pemerintah IRIB pada Kamis (2/4/2026), Amir Hatami menegaskan komitmen militer Iran untuk mengawasi setiap pergerakan pasukan AS. Ia menyatakan bahwa komando operasional telah diperintahkan untuk melakukan pemantauan yang ketat dan menyiapkan respons yang tepat waktu terhadap setiap metode serangan yang mungkin dilancarkan.

“Jika musuh mencoba operasi darat, tidak seorang pun boleh selamat,” tegas Hatami dengan nada lugas.

Ia melanjutkan dengan penekanan pada kewaspadaan tinggi, “Penting untuk memantau pergerakan dan tindakan musuh dengan sangat teliti dan sangat hati-hati, dari waktu ke waktu, dan untuk menerapkan rencana untuk melawan metode serangannya pada waktu yang tepat.”

Pernyataan tersebut ditutup dengan visi keamanan nasional, “Bayang-bayang perang harus dihilangkan dari negara kita, dan keamanan harus ditegakkan untuk semua,” ungkapnya.

Laporan Persiapan Militer AS dan Potensi Eskalasi

Peringatan Hatami bukan tanpa konteks. Beberapa hari sebelumnya, tepatnya pada Sabtu (28/3/2026), The Washington Post mempublikasikan laporan yang mengutip para pejabat AS. Laporan itu menyebutkan bahwa Pentagon sedang mempersiapkan kemungkinan operasi darat di Iran, seiring dengan dikerahkannya ribuan pasukan tambahan AS ke kawasan Timur Tengah. Keputusan akhir untuk eksekusi operasi tersebut disebut-sebut masih berada di tangan Presiden AS Donald Trump.

Para analis yang mengikuti perkembangan ini menyoroti bahwa rencana semacam itu dapat menandai titik balik yang signifikan dalam konflik. Operasi darat dinilai berisiko memicu “fase baru perang” yang diprediksi akan jauh lebih berbahaya bagi personel AS dibandingkan dengan pertempuran selama empat minggu pertama.

Target Potensial dan Dampak Konflik yang Berkepanjangan

Diskusi internal militer AS, menurut laporan, juga mencakup berbagai skenario operasi. Dua target yang disebutkan adalah Pulau Kharg, yang merupakan pusat ekspor minyak vital Iran, dan area pesisir di sekitar Selat Hormuz yang strategis. Tujuannya adalah untuk menetralisir ancaman terhadap jalur pelayaran internasional. Para pejabat memperkirakan bahwa misi semacam itu berpotensi berlangsung selama beberapa pekan, mengindikasikan persiapan untuk pertempuran yang berlarut-larut.

Eskalasi yang sudah terjadi hingga saat ini telah memakan korban yang tidak sedikit. Sejak konflik pecah pada akhir Februari, tercatat 13 tentara AS tewas dan lebih dari 300 lainnya terluka dalam berbagai serangan di wilayah tersebut. Puncak ketegangan dimulai ketika Israel dan AS melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari, yang menurut data saat itu menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei.

Iran membalas serangan tersebut dengan gelombang drone dan rudal yang menyasar Israel, Yordania, Irak, serta negara-negara Teluk yang menjadi basis militer AS. Serangan balasan ini tidak hanya menimbulkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur, tetapi juga telah mengguncang stabilitas pasar global dan mengganggu lalu lintas penerbangan di kawasan, memperlihatkan dampak riil konflik yang meluas melampaui batas-batas geopolitik.

Editor: Paradapos.com

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar