Gus Ulil Dibombardir Serangan Telepon, Tersandung Wawancara Kontroversial dengan Greenpeace
Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan SDM PBNU, KH Ulil Abshar Abdalla atau Gus Ulil, mengaku mendapatkan serangan dari publik dalam beberapa waktu terakhir. Ia menyebut dirinya dibombardir oleh panggilan telepon dan pesan WhatsApp yang tidak berhenti-henti.
Seluruh upaya komunikasi yang ditujukan kepadanya bernada negatif, berisi makian dan ancaman. Serangan ini diduga kuat berkaitan dengan maraknya kabar bencana alam di beberapa daerah, khususnya kawasan Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Pemicu Kontroversi: Debat dengan Aktivis Greenpeace
Pemicu kemarahan netizen adalah video wawancara Gus Ulil dengan Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia, Iqbal Damanik, yang tayang pada 12 Juni 2025. Perdebatan mereka berfokus pada tata kelola dan pelestarian hutan sebagai bagian dari ekosistem penting di Indonesia.
Dalam wawancara tersebut, Iqbal menantang Gus Ulil untuk menunjukkan satu saja contoh konsesi pembalakan hutan atau pertambangan di Indonesia yang berhasil direklamasi atau direboisasi hingga kembali ke ekosistem awalnya. Menurut Iqbal, hal tersebut tidak ada.
Respons Kontroversial Gus Ulil dan Istilah "Wahabisme Lingkungan"
Gus Ulil justru mempertanyakan kepentingan Iqbal untuk mengembalikan ekosistem ke kondisi awal. Ia berargumen bahwa perubahan ekosistem adalah bagian dari dinamika sejarah yang tidak bisa dihindari, dianalogikan dengan lahan bermain masa kecilnya yang kini berubah menjadi permukiman.
Lebih lanjut, Gus Ulil menyebut sikap aktivis lingkungan yang ekstrem, yang menolak sama sekali industri ekstraktif, sebagai "Wahabisme Lingkungan". Ia mengibaratkannya dengan puritanisme teks dalam pemikiran Wahabi. Baginya, sumber daya alam seperti pohon dan tambang adalah anugerah Tuhan untuk dikelola dan dimanfaatkan manusia, serta menjadi mata pencaharian banyak orang.
Sanggahan dari Aktivis Greenpeace
Iqbal Damanik menyanggah analogi Gus Ulil dengan menyatakan bahwa kerusakan akibat industrialisasi tidak sama dengan perubahan alamiah. Ia menekankan bahwa kuota deforestasi Indonesia sudah sangat menipis dan harus mempertimbangkan daya dukung lingkungan.
Iqbal menegaskan bahwa tidak semua anugerah alam harus diekstraksi habis pada masa kini. Ada batas yang harus dihormati untuk diwariskan kepada generasi mendatang, agar mereka tidak hanya menerima dampak buruk dari eksploitasi yang tidak bertanggung jawab.
Debat ini menyisakan polemik hangat di masyarakat, yang kemudian berimbas pada serangan yang diterima Gus Ulil melalui berbagai saluran komunikasi pribadinya.
Artikel Terkait
Saksi Melihat Pria Diduga Tinggalkan Bayi di Gerobak Nasi Uduk Pejaten
Kesalahan Perawatan Sehari-hari Jadi Penyebab Utama Kerusakan Lantai Vinyl
Buya Yahya Serukan Persatuan Islam Abaikan Perbedaan Sekte, Fokus Lawan Israel
Polisi Bantah Surat Permintaan THR ke Pengusaha Truk di Tanjung Priok Palsu