PARADAPOS.COM - Proyek kereta cepat Whoosh menuai sorotan tajam dari kalangan ekonom terkait kelangsungan finansialnya. Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menyatakan proyek infrastruktur senilai miliaran dolar itu memerlukan evaluasi mendalam, lantaran perkiraan periode balik modalnya dinilai bisa mencapai lebih dari satu abad. Pernyataan ini disampaikan menyusul analisis atas kesenjangan besar antara beban utang pemerintah dan potensi penerimaan dari operasional kereta cepat tersebut.
Analisis Ekonomi Ungkap Kesenjangan Finansial
Dalam keterangan tertulisnya pada Senin, 23 Februari 2026, ekonom Indef Esther Sri Astuti mengungkapkan keprihatinan yang mendalam. Ia memaparkan bahwa jarak antara kewajiban finansial yang ditanggung negara dan pendapatan yang dihasilkan Whoosh terpaut sangat jauh, menimbulkan tanda tanya besar atas keberlanjutan proyek.
"Jumlah utang yang ditanggung pemerintah untuk Whoosh dan potensi penerimaan dari Whoosh ini gap-nya sangatlah besar," ungkapnya.
Pentingnya Pengawasan dan Transparansi
Menanggapi kompleksitas pengelolaan proyek strategis ini, Esther menekankan bahwa mekanisme pengawasan yang efektif sebenarnya dapat dimulai dengan langkah-langkah yang sederhana namun fundamental. Ia menjelaskan bahwa membandingkan kualitas output proyek dengan harga pasar yang berlaku bisa menjadi indikator awal untuk mendeteksi adanya ketidakwajaran atau penyimpangan.
Lebih lanjut, strategi utama untuk membendung potensi kerugian yang lebih besar, menurutnya, terletak pada konsistensi monitoring dan evaluasi. Temuan atas kejanggalan dalam proses tersebut, tegas Esther, harus segera direspons dengan langkah penegakan hukum yang jelas dan tegas tanpa kompromi.
Beban Kerugian dan Proyeksi Balik Modal yang Suram
Persoalan tidak hanya berhenti pada tata kelola operasional. Aspek pembiayaan Whoosh juga menjadi titik perhatian kritis. Esther menyoroti kondisi PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI), yang memegang 60 persen saham di PT Kereta Cepat Indonesia-China (KCIC). Konsorsium BUMN ini ditaksir telah menanggung beban kerugian yang fantastis, mencapai lebih dari Rp4 triliun.
Kerugian tersebut erat kaitannya dengan tingkat okupansi atau keterisian penumpang Whoosh yang masih jauh dari harapan. Berdasarkan realitas angka penumpang saat ini, perhitungan periode pengembalian modal proyek ini pun menggambarkan skenario yang suram.
"Ini mengakibatkan tingkat pengembalian (payback period) proyek Whoosh sangat lama. Saya pernah menghitung sekitar lebih 100 tahun lebih dengan tingkat okupansi Whoosh seperti sekarang," pungkas Esther.
Analisis ini menyiratkan bahwa tanpa peningkatan signifikan dalam jumlah penumpang atau restrukturisasi model bisnis, beban finansial proyek kereta cepat pertama di Asia Tenggara ini akan terus membayangi anggaran negara untuk waktu yang sangat panjang. Evaluasi komprehensif menjadi keniscayaan untuk memastikan aset strategis ini tidak justru menjadi liabilitas jangka panjang bagi perekonomian.
Artikel Terkait
DPR Godok Revisi UU Penyiaran, Industri Kreatif Khawatir Regulasi Internet Hambat Pertumbuhan
Menteri Keuangan Ancam Blacklist Penerima Beasiswa LPDP yang Hina Negara
Viral Nama Tiara Kartika di Media Sosial, Kebenaran Video dan Tautan Terabox Masih Samar
Arab Saudi Kirim 100 Ton Kurma untuk Ramadan, Kemenag Salurkan ke Pesantren hingga IKN