Rupiah Sentuh Rp17.000, Menkeu Tegaskan Fundamental Ekonomi Masih Ekspansi

- Senin, 09 Maret 2026 | 08:00 WIB
Rupiah Sentuh Rp17.000, Menkeu Tegaskan Fundamental Ekonomi Masih Ekspansi

PARADAPOS.COM - Nilai tukar rupiah sempat melemah hingga menembus level psikologis Rp17.000 per dolar AS pada Senin, 9 Maret 2026. Meski demikian, pemerintah menilai pelemahan ini tidak mencerminkan kondisi fundamental ekonomi domestik yang memburuk. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan ekonomi Indonesia masih dalam fase ekspansi dengan daya beli masyarakat yang terjaga.

Pergerakan Rupiah di Awal Pekan

Pada pembukaan perdagangan hari itu, rupiah tercatat melemah 0,40 persen menjadi Rp17.017 per dolar AS, berdasarkan data Bloomberg. Pergerakan ini kontras dengan kurs referensi Bank Indonesia (Jisdor) yang berada di posisi Rp16.919. Pelemahan yang menembus level psikologis tersebut menarik perhatian banyak pihak, menimbulkan beragam spekulasi mengenai kondisi perekonomian nasional.

Respons Pemerintah: Fundamental Masih Kuat

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyoroti bahwa sentimen negatif dan persepsi tentang resesi turut mendorong tekanan pada rupiah. Ia dengan tegas membantah narasi tersebut, menyatakan bahwa kondisi riil ekonomi jauh dari gambaran suram yang beredar.

“Rupiah 17 ribu karena sebagian teman-teman ekonomi bilang katanya kita sudah resesi mulai 1998 lagi. Yang itulah, daya beli sudah hancur. Tidak seperti itu. Ekonomi sedang ekspansi, daya beli kita jaga mati-matian,” ujarnya saat ditemui di kawasan Tanah Abang, Jakarta.

Purbaya bahkan menyatakan bahwa ekonomi tidak hanya jauh dari krisis, tetapi juga belum menunjukkan tanda-tanda perlambatan yang berarti. Optimisme ini ia dasarkan pada aktivitas konsumsi yang masih terpantau kuat.

“Boro-boro krisis. Jangankan krisis, resesi saja belum. Melambat saja belum. Kita masih ekspansi, masih akselerasi,” tegasnya.

Pengecekan Langsung ke Lapangan

Sebagai bentuk verifikasi terhadap data makro, Purbaya mengaku sengaja mendatangi Pasar Tanah Abang. Kunjungan lapangan ini dimaksudkan untuk mendapatkan gambaran langsung tentang aktivitas perdagangan dan daya beli masyarakat di tingkat akar rumput.

Menurut pengamatannya, keramaian dan transaksi yang terjadi di pusat perdagangan terbesar di Asia Tenggara itu justru mengonfirmasi ketahanan ekonomi.

“Kalau data-data kita ekonomi lagi bagus, harusnya di Tanah Abang ada pembelinya. Saya mau cek itu saja betul atau enggak. Ternyata betul, orang masih belanja, pasar masih ramai,” jelasnya.

Komitmen Pemantauan dan Kebijakan

Di tengah gejolak nilai tukar, pemerintah menyatakan komitmennya untuk terus memantau perkembangan ekonomi secara ketat. Berbagai faktor eksternal, seperti volatilitas harga komoditas global, akan menjadi perhatian untuk menjaga stabilitas makroekonomi.

Purbaya menegaskan kesiapan pemerintah untuk mengambil langkah-langkah kebijakan yang terukur jika diperlukan, guna menjaga momentum pertumbuhan. Sikap kehati-hatian ini diutarakan sebagai bagian dari respons yang proporsional.

“Yang jelas kita monitor dari waktu ke waktu dan saya enggak akan terlambat mengambil keputusan kalau diperlukan,” pungkasnya.

Editor: Reza Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar