Pengamat sosial dan politik Sholihin MS menyoroti dinamika kekuasaan pasca lengsernya Presiden Joko Widodo (Jokowi) dari kursi kepresidenan. Menurutnya, Jokowi belum sepenuhnya melepaskan kekuasaan, bahkan tetap aktif “cawe-cawe” dalam pemerintahan baru yang dipimpin oleh Prabowo Subianto.
“Lengsernya Jokowi tidak menjadikan dirinya menyerahkan kekuasaan kepada penggantinya secara legowo dan sukarela, tetapi cawe-cawe-nya tidak pernah berhenti, baik secara langsung maupun tidak langsung, secara terang-terangan maupun tersembunyi,” ujar Sholihin kepada www.suaranasional.com, Jumat (25/4).
Ia menjelaskan, cawe-cawe secara langsung dilakukan Jokowi dengan mengendalikan sejumlah menteri dan ketua lembaga tinggi negara. Sementara itu, cawe-cawe tidak langsung dilakukan dengan terus menyandera Prabowo melalui berbagai skandal dan tekanan politik.
“Prabowo terus dibayang-bayangi rasa takut yang mendalam akan tindakan nekat Jokowi yang bukan saja bisa melengserkannya, tetapi juga bisa dengan mudah menghabisinya,” tambah Sholihin.
Sholihin juga menyoroti keberadaan Gibran Rakabuming Raka sebagai wakil presiden yang menurutnya merupakan bentuk pelanggaran konstitusi, serta peran Jokowi dalam melindungi para taipan China yang dinilainya merongrong kedaulatan bangsa melalui berbagai proyek besar seperti reklamasi PIK, eksodus TKA, dan penguasaan tambang-tambang strategis.
“Para pendukung di belakang Jokowi sangat beragam, dari yang nyata-nyata komunis sampai yang mengaku agamis, dari rakyat sipil sampai para jenderal, dari yang terang-terangan menjilat sampai yang bermain di belakang layar,” ujarnya lagi.
Ia menilai, selama Jokowi masih hidup dan tidak diadili secara hukum, Indonesia akan terus berada dalam kekacauan. “Mereka yang disandera Jokowi sangat sulit melepaskan diri karena hidupnya telah berlumur dosa yang sengaja dimainkan Jokowi. Berbagai skandal yang menjerat mereka jadi kartu mati di tangan Jokowi,” tandasnya.
Sholihin menyerukan agar semua elemen bangsa berani menegakkan kebenaran dan membebaskan diri dari dominasi politik yang destruktif demi masa depan Indonesia yang berdaulat dan adil.
Sumber: suaranasional
Foto: Ilustrasi/Net
Artikel Terkait
Dokter Tifa Klaim Punya 26 Lembar Dokumen Syarat Pencalonan Jokowi di Pilpres 2014
KPK Geledah Kantor Imigrasi dan Rumah Tersangka Pemerasan Izin Tinggal WNA, Sita Uang Puluhan Juta
Kuasa Hukum Ajukan Sony Sonjaya sebagai Justice Collaborator, Ungkap 26 Nama di Kasus Korupsi MBG
Pertamina Naikkan Harga Pertamax dan Pertamax Green per 10 Juni 2026