Pertemuan Panas Bahas Utang Whoosh: Purbaya vs Danantara vs KAI, Bom Waktu yang Bisa Meledak Kapan Saja!

- Jumat, 17 Oktober 2025 | 08:25 WIB
Pertemuan Panas Bahas Utang Whoosh: Purbaya vs Danantara vs KAI, Bom Waktu yang Bisa Meledak Kapan Saja!

Pertemuan Panas Bahas Utang Whoosh: Purbaya Tolak Penggunaan APBN

Jakarta - Pertemuan antara Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dan Dewan Pengawas Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) di Wisma Danantara pada Rabu, 15 Oktober 2025, dilaporkan berlangsung tegang. Ketegangan ini muncul karena Danantara bersikeras agar utang proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung (KCJB) atau Whoosh dibayar menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Namun, Menkeu Purbaya menolak mentah-mentah usulan tersebut. Ia menegaskan bahwa langkah itu justru dapat merusak integritas dalam pengelolaan keuangan negara. "Mereka ngotot pakai APBN, tapi saya bilang tidak. Itu tidak sehat bagi tata kelola fiskal," tegas Purbaya.

Dividen BUMN Rp 90 Triliun Seharusnya untuk Bayar Utang Whoosh

Purbaya mengungkapkan bahwa Danantara sebenarnya memiliki dana yang sangat besar, yaitu dari dividen BUMN yang hampir mencapai Rp 90 triliun. Dana sebesar itu, menurutnya, seharusnya dapat dialokasikan untuk membayar cicilan tahunan utang proyek kereta cepat yang mencapai Rp 2 triliun.

Purbaya bahkan menyampaikan kritiknya, "Saya sempat kritik, kalau dividen sebanyak itu malah ditaruh di obligasi pemerintah, lalu keahlian Anda apa?" Pernyataan ini menyinggung keputusan Danantara yang menempatkan sebagian besar dividen ke dalam surat utang. Menanggapi hal ini, Danantara berdalih bahwa penempatan dana tersebut bersifat sementara karena mereka belum sempat menjalankan proyek baru dalam tiga bulan terakhir.

Purbaya pun mengusulkan solusi alternatif: pembayaran utang Whoosh seharusnya dilakukan menggunakan dividen BUMN, bukan APBN. Ia menegaskan bahwa dalam perjanjian dengan China Development Bank (CDB), tidak ada klausul yang mewajibkan pemerintah menanggung utang tersebut. "Saya sudah negosiasi juga dengan CDB, yang penting struktur pembayarannya jelas. Jadi harusnya tidak masalah kalau Danantara yang bayar," ujarnya. Akhirnya, Danantara berjanji akan mengkaji ulang usulan tersebut dan meninjau alokasi dividen untuk difokuskan pada proyek-proyek produktif.

Purbaya Tegas: APBN Bukan Solusi untuk Utang KCJB Whoosh

Di akhir pertemuan, Purbaya kembali menegaskan sikapnya yang tidak akan berubah. "Saya sudah putus, tidak mau gunakan APBN untuk Whoosh," tegasnya. Sikap tegas ini bukan tanpa alasan. Laporan keuangan PT Kereta Api Indonesia (KAI) menunjukkan tekanan besar akibat beban utang proyek Whoosh.

Anak usaha KAI, PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI), bahkan mencatat kerugian fantastis sebesar Rp 4,19 triliun pada 2024 dan Rp 1,62 triliun di semester I-2025. Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, sebelumnya telah menyebut situasi ini sebagai "bom waktu" dan menyatakan bahwa pihaknya sedang menyiapkan langkah bersama Danantara untuk mencari solusi.

Dengan kondisi finansial yang menekan ini, keputusan Purbaya untuk menolak penggunaan APBN dinilai sebagai langkah hati-hati untuk menjaga stabilitas fiskal dan kredibilitas pengelolaan dana publik Indonesia.

Sumber: konteks

Foto: Purbaya tolak APBN untuk utang Whoosh, bagaimana sikap Danantara dan KAI? (Instagram @menkeuri, @danantara.indonesia)

Editor: Wahyu Pradana

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar