Pakar Hukum Desak KPK Periksa Jokowi Terkait Kasus Dugaan Mark-Up Proyek Kereta Cepat Whoosh
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) didesak untuk memanggil dan memeriksa mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) terkait eskalasi kasus dugaan korupsi proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Whoosh). Desakan ini disampaikan oleh pakar hukum pidana, Abdul Fickar Hadjar, menyusul ditingkatkannya status kasus ini ke tahap penyelidikan.
Alasan Pemeriksaan Jokowi di Kasus Whoosh
Abdul Fickar Hadjar menegaskan bahwa pemeriksaan terhadap Jokowi dinilai krusial. Hal ini dikarenakan posisinya sebagai pengambil keputusan tertinggi dalam pemilihan produk kereta cepat asal China pada masanya.
"Ya, mantan presiden Jokowi sebagai pihak yang memilih produk kereta China harus dipanggil dan didengar keterangannya. Serta pihak-pihak lain yang memilih dan menyebabkan kerugian," ujar Fickar.
Menelusuri Penyebab Kerugian Negara
Fickar menjelaskan bahwa langkah pertama dalam penyelidikan adalah mengidentifikasi akar penyebab kerugian negara. Investigasi harus menjawab apakah kerugian terjadi akibat kesalahan pengelolaan proyek atau karena kekeliruan fundamental dalam pemilihan moda transportasinya sejak awal.
Dari titik inilah, penyidik dapat menelusuri lebih lanjut kemungkinan adanya pihak-pihak yang diuntungkan dari keputusan tersebut.
"Ya dimulai dari kerugian yang diderita proyek ini, apakah karena disebabkan oleh pengelolaan, atau karena pilihan modanya yang keliru, kemudian adakah pihak-pihak yang mendapatkan sesuatu atau kompensasi atas pilihan ini, termasuk presiden," jelasnya.
Status Penyidikan dan Latar Belakang Kasus
KPK telah mengonfirmasi peningkatan status kasus dugaan mark-up anggaran proyek Whoosh ke tahap penyelidikan. Plt Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK, Asep Guntur Rahayu, menyatakan, "Saat ini sudah tahap penyelidikan," meski belum memberikan rincian lebih lanjut.
Eskalasi ini merupakan tindak lanjut dari pengungkapan Mahfud MD melalui sebuah video di YouTube. Dalam video tersebut, Mahfud mengklaim adanya selisih biaya yang signifikan antara perhitungan di Indonesia dan di China.
"Menurut perhitungan pihak Indonesia, biaya per satu kilometer kereta Whoosh itu 52 juta dolar AS. Akan tetapi, di China sendiri, hitungannya 17-18 juta dolar AS. Naik tiga kali lipat," ungkap Mahfud.
Merespons hal tersebut, KPK sebelumnya telah mengimbau Mahfud MD dan masyarakat yang memiliki informasi untuk menyampaikan laporan resmi guna ditindaklanjuti lebih lanjut.
Artikel Terkait
Pesta Kecil Makin Diminati, Tuan Rumah Lebih Nikmati Percakapan daripada Keramaian
Mahasiswa Beri Tenggat 5x24 Jam ke Pemerintah, Ancang-Angang Aksi Berjilid Jika Tuntutan Tak Dipenuhi
Mahasiswa Beri Ultimatum 3x24 Jam ke DPR Usai Aksi di Senayan, Tuntut Evaluasi Kinerja
Mahasiswa Bakar Atribut dan Desak Audiensi DPR di Tengah Protes Korupsi Program Makan Bergizi Gratis