Ramadan di Gaza: Gencatan Senjata Tak Hapus Antrean Panjang dan Trauma Konflik

- Jumat, 20 Februari 2026 | 19:25 WIB
Ramadan di Gaza: Gencatan Senjata Tak Hapus Antrean Panjang dan Trauma Konflik

PARADAPOS.COM - Ramadan di Jalur Gaza tahun ini kembali diwarnai oleh keprihatinan dan ketidakpastian. Meski gencatan senjata berlaku sejak akhir Oktober 2025, kehidupan warga sipil masih jauh dari kata aman dan tenteram. Ancaman keamanan yang bisa berubah sewaktu-waktu, ditambah dengan kelangkaan bahan pangan yang parah, mengubah bulan suci ini menjadi ujian ketahanan fisik dan mental yang berat bagi ratusan ribu penduduk yang bertahan di tengah reruntuhan.

Antrean Panjang untuk Seporsi Buka Puasa

Suasana menjelang maghrib, yang biasanya riuh dengan persiapan buka puasa bersama keluarga, kini berganti dengan pemandangan antrean panjang yang muram. Ratusan warga, dari anak-anak hingga orang tua, terpaksa berdesakan untuk mendapatkan jatah bantuan makanan yang seringkali hanya cukup untuk sekadar membatalkan puasa. Ritual keagamaan yang penuh berkah ini terasa hambar di tengah bayang-bayang kehilangan harta benda, rumah, dan nyawa akibat konflik yang berkepanjangan.

Kenangan Manis dan Realita Pahit Pengungsian

Kerinduan akan Ramadan yang penuh kegembiraan masih hidup dalam ingatan para penduduk Gaza. Waleed Al Zamli, salah satu di antaranya, merasakan betul kontras yang menyayat hati antara masa lalu dan kenyataan sekarang.

"Saya sangat merindukan tradisi hari pertama Ramadan yang dulu diwarnai kegembiraan bersama keluarga," ungkapnya dengan suara lirih. Kini, Al Zamli dan keluarganya harus tinggal di tenda pengungsian setelah tempat kerjanya hancur. Kehilangan mata pencaharian itu membuatnya kesulitan memenuhi kebutuhan paling dasar untuk orang-orang yang dicintainya.

Gencatan Senjata dan Bayangan Ketakutan yang Tak Kunjung Sirna

Meski ada kesepakatan gencatan senjata, rasa was-was tetap menjadi teman sehari-hari warga Gaza. Situasi keamanan yang rapuh sering kali pecah oleh insiden yang memicu ketegangan baru. Laporan dari lapangan menyebutkan bahwa serangan udara sporadis dan tembakan masih terjadi, mengingatkan semua pihak bahwa perdamaian yang sejati dan berkelanjutan belum benar-benar terwujud. Kondisi ini membuat setiap aktivitas, termasuk ibadah di bulan Ramadan, dilakukan dengan hati yang senantiasa berdebar.

Ketabahan Sejati di Tengah Ujian

Bagi umat Muslim Gaza, Ramadan tahun ini adalah pelajaran nyata tentang makna ketabahan dan keteguhan iman. Di balik dinding yang rubuh dan di bawah langit yang kerap dipecah oleh suara menggelegar, mereka tetap berusaha menjalankan kewajiban puasa, salat, dan amal kebaikan. Semangat untuk mempertahankan martabat dan identitas keagamaan mereka justru bersinar lebih terang di tengah kondisi yang tidak manusiawi. Tragedi kemanusiaan yang berlarut-larut ini bukan hanya menjadi catatan kelam, tetapi juga pengingat bagi dunia tentang kekuatan jiwa manusia yang tak mudah patah.

Editor: Yoga Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar