PARADAPOS.COM - Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang mengoptimalkan penjualan digital terbukti mampu mencatatkan kinerja luar biasa pada momen-momen musiman. Luckybite, sebuah UMKM makanan ringan berbasis daring, menjadi contoh nyata dengan berhasil menggandakan penjualannya saat menyambut Ramadan, Natal, dan Imlek. Kunci keberhasilan ini terletak pada strategi pemanfaatan ekosistem e-commerce dan pengelolaan permintaan yang matang.
Strategi Online-First dan Pemanfaatan Momentum
Sejak awal, Luckybite memilih model bisnis online-first tanpa mengandalkan toko fisik. Fokus penjualan dialihkan sepenuhnya ke marketplace dan media sosial, dengan Shopee sebagai tulang punggung utama. Pendekatan ini dinilai efisien karena mengandalkan sistem logistik dan pembayaran terintegrasi dari platform, sehingga biaya operasional dan distribusi dapat ditekan secara signifikan.
Julius Christian Darmawan, pemilik Luckybite, mengungkapkan bahwa momen perayaan keagamaan menjadi penggerak utama permintaan. "Kami memanfaatkan momentum Lebaran, Natal, dan Imlek. Kenaikannya bisa sampai 100% dibandingkan periode low season," jelasnya pada Kamis (26/2/2026).
Peran Fitur Platform dan Strategi Produksi
Di sisi pemasaran, fitur promosi yang disediakan platform seperti voucher dan kampanye musiman berperan besar dalam memperluas jangkauan dan meningkatkan konversi penjualan. Program berskala nasional, misalnya kampanye Ramadan, seringkali memberikan dampak langsung yang terlihat pada peningkatan volume transaksi para pelaku UMKM.
Namun, lonjakan permintaan yang tajam tidak bisa dihadapi hanya dengan promosi. Luckybite meresponsnya dengan strategi manajemen produksi dan persediaan yang terencana. Mereka mulai menaikkan kapasitas produksi sekitar satu bulan sebelum Ramadan, mengantisipasi puncak permintaan yang biasanya terjadi dua pekan menjelang Lebaran. Untuk produk hampers, persiapan stok bahkan dilakukan hingga 1.000 paket di awal untuk memastikan ketersediaan selama periode permintaan tinggi.
Dari Responsif Menuju Perencanaan Matang
Pendekatan proaktif semacam ini mencerminkan pergeseran pola pikir di kalangan UMKM, khususnya di sektor makanan dan minuman yang sangat fluktuatif. Pola kerja yang awalnya hanya responsif terhadap pesanan, kini mulai bertransformasi menjadi lebih berbasis pada perencanaan permintaan atau demand planning yang matang.
Selain mengandalkan promosi dari platform, kanal pemasaran berbasis afiliasi juga memberikan kontribusi nyata. Steven Marselie, salah satu pemilik Luckybite, menuturkan bahwa aktivitas live streaming dari para afiliasi kerap mendongkrak transaksi. "Penjualan biasanya terdorong saat afiliasi melakukan live, terutama malam hari," ungkapnya.
Kisah Luckybite ini menunjukkan bahwa dengan strategi digital yang tepat dan perencanaan operasional yang cermat, UMKM lokal tidak hanya bisa bertahan, tetapi juga berkembang pesat dengan memanfaatkan ritme permintaan musiman yang ada.
Artikel Terkait
223 Ogoh-Ogoh Bersaing Ketat di Kasanga Festival Denpasar Jelang Nyepi 2026
Polres Sijunjung Amankan Pengedar Sabu Berdasarkan Laporan Warga
Avian Brands Catat Pendapatan Rp8,1 Triliun dan Laba Bersih Rp1,7 Triliun di 2025
Hotman Paris Soroti Kejanggalan Hukum dalam Kasus ABK Terancam Hukuman Mati