Iran Bantah Klaim Penutupan Selat Hormuz Tegaskan Komitmen pada Hukum Internasional

- Jumat, 06 Maret 2026 | 03:25 WIB
Iran Bantah Klaim Penutupan Selat Hormuz Tegaskan Komitmen pada Hukum Internasional

PARADAPOS.COM - Misi Tetap Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) secara tegas membantah klaim bahwa pemerintahnya menutup Selat Hormuz. Pernyataan bantahan ini disampaikan melalui platform media sosial X, menanggapi laporan-laporan yang beredar. Mereka menyebut klaim penutupan selat strategis itu sebagai tuduhan yang tidak berdasar dan tidak masuk akal, sambil menegaskan komitmen Iran pada hukum internasional dan prinsip kebebasan navigasi.

Bantahan Resmi di Tengah Ketegangan

Dalam situasi geopolitik yang memanas, pernyataan resmi dari misi diplomatik Iran di PBB ini muncul untuk meredam narasi yang dinilai dapat memicu eskalasi lebih lanjut. Penolakan tersebut ditekankan secara berulang dalam komunikasi mereka.

"Klaim bahwa Iran menutup Selat Hormuz tidak berdasar dan tidak masuk akal," tulis misi tersebut, seperti dikutip dari kantor berita Anadolu pada Jumat, 6 Maret 2026.

“Kami menegaskan kembali bahwa Iran tetap berkomitmen pada hukum internasional dan kebebasan navigasi,” imbuh pernyataan itu, menegaskan posisi resmi negara.

Latar Belakang: Insiden Kapal Perang di Samudra Hindia

Bantahan ini tidak terlepas dari konteks ketegangan militer baru-baru ini. Menurut keterangan Iran, fregat Dena yang tengah dalam perjalanan pulang dari kunjungan ke India justru menjadi korban serangan di perairan internasional. Kapal yang membawa sekitar 130 pelaut itu dilaporkan dihantam dan ditenggelamkan oleh kapal selam Amerika Serikat, sekitar 2.000 mil dari pantai Iran. Insiden yang diklaim terjadi di lepas pantai Sri Lanka pada hari Rabu itu menewaskan lebih dari 100 awak kapal.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengonfirmasi serangan tersebut pada hari Kamis. Kapal perang itu sebelumnya baru berpartisipasi dalam latihan angkatan laut di perairan India. Selain korban jiwa, tercatat 32 pelaut terluka dan sejumlah lainnya masih dinyatakan hilang. Pihak Iran menilai serangan ini sebagai tindakan sembrono yang melanggar kedaulatan dan prinsip hukum internasional.

Eskalasi Konflik yang Meluas

Insiden tenggelamnya fregat Dena terjadi dalam atmosfer konflik yang lebih luas. Kampanye militer gabungan yang dilancarkan oleh Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran disebut telah dimulai sejak hari Sabtu sebelumnya. Operasi tersebut dilaporkan menelan korban jiwa yang signifikan, sedikitnya 926 orang, termasuk sejumlah pejabat tinggi militer dan pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei.

Sebagai bentuk pembalasan, Iran telah meluncurkan serangkaian serangan menggunakan drone dan rudal. Sasaran serangan balasan ini tidak hanya ditujukan ke wilayah Israel, tetapi juga ke negara-negara di kawasan Teluk yang diyakini menjadi tempat penyimpanan aset-aset militer Amerika Serikat. Situasi ini menggambarkan dinamika konflik yang kompleks dan berpotensi meluas, dengan Selat Hormuz—jalur vital perdagangan minyak global—selalu menjadi titik perhatian utama dalam setiap ketegangan di kawasan.

Editor: Andri Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar