PARADAPOS.COM - Harga daging sapi di Pasar Ciawi, Kabupaten Bogor, melonjak tajam memasuki pekan kedua Ramadan 2026, mencapai Rp150.000 per kilogram. Kenaikan yang berkisar Rp15.000 hingga Rp30.000 dari harga sebelumnya ini membebani konsumen dan menekan penjualan pedagang di tengah tingginya kebutuhan bulan puasa.
Dampak Langsung di Lapangan
Suasana di los daging Pasar Ciawi terlihat lebih sepi dari biasanya. Aktivitas jual beli tidak seramai di awal Ramadan, mencerminkan perlambatan yang dirasakan langsung oleh para pedagang. Mereka mengaku dagangan tidak laku secepat biasanya, sebuah indikasi nyata dari menurunnya daya beli masyarakat.
Kenaikan harga ini bukan sekadar angka di kertas, tetapi berimbas pada berkurangnya jumlah pembeli. Para pedagang pun harus menghadapi kenyataan bahwa omzet mereka turun drastis, meski permintaan secara tradisional meningkat selama bulan suci.
Penyebab di Balik Lonjakan Harga
Menurut pelaku pasar di lapangan, akar masalahnya terletak pada ketidakseimbangan antara permintaan dan pasokan. Tingginya kebutuhan daging sapi selama Ramadan tidak diimbangi dengan ketersediaan stok sapi siap potong yang memadai di wilayah Bogor. Kondisi ini mendorong harga di tingkat supplier naik, yang kemudian berimbas hingga ke konsumen akhir.
Salah satu pedagang, Tedy, memberikan penjelasan langsung dari balik meja dagangannya. Ia menggambarkan situasi yang dihadapi rekan-rekannya sesama pedagang.
“Permintaan memang tinggi karena bulan Ramadhan, tapi pasokannya sulit. Akibatnya harga dari sananya sudah naik. Dampaknya ke kami, pembeli berkurang jauh. Omzet penjualan turun drastis karena daya beli masyarakat sedang lemah,” tuturnya pada Sabtu, 7 Maret 2026.
Siklus Tahunan dan Kekhawatiran ke Depan
Fenomena kenaikan harga jelang hari besar keagamaan sebenarnya kerap terjadi. Namun, para pedagang menilai lonjakan tahun ini terasa lebih berat akibat pasokan yang sangat terbatas. Situasi ini telah membuat harga terus merangkak naik selama dua pekan terakhir tanpa tanda-tanda akan segera mereda.
Kekhawatiran kini beralih ke hari-hari mendatang, terutama menjelang momen puncak seperti Hari Raya Idul Fitri. Tanpa intervensi, tekanan harga diprediksi akan semakin besar, memberatkan baik konsumen yang ingin menyambut lebaran maupun pedagang yang berharap pada peningkatan penjualan.
Harapan akan Intervensi Pemerintah
Di tengah situasi yang serba sulit ini, baik pedagang maupun warga mulai menaruh harapan pada langkah-langkah penstabilan dari pemerintah daerah. Upaya seperti operasi pasar atau intervensi untuk memperlancar distribusi pasokan dinilai mendesak untuk segera dilakukan.
Langkah tersebut bukan hanya diharapkan dapat meredam kenaikan harga lebih lanjut, tetapi juga mengembalikan stabilitas pasar tradisional yang menjadi tulang punggung pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat menengah ke bawah, khususnya di bulan yang penuh berkah ini.
Artikel Terkait
Panglima TNI Instruksikan Status Siaga Satu, Antisipasi Ketegangan Timur Tengah
Menteri Kehutanan Serahkan SK Perhutanan Sosial 560 Hektare untuk 411 KK di Lombok
Presiden Iran Minta Maaf ke Negara Tetangga, Trump Nilai Kelemahan
Trump Klaim Iran Minta Maaf dan Menyerah ke Tetangga, Klaim Dibantah