PARADAPOS.COM - Mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim bahwa Iran telah meminta maaf dan menyerah kepada negara-negara tetangganya di Timur Tengah, serta berjanji tidak akan lagi melancarkan serangan. Pernyataan kontroversial ini disampaikannya melalui platform media sosial Truth Social pada Sabtu, 7 Maret, di tengah memanasnya ketegangan regional pasca serangkaian serangan udara AS dan Israel yang dimulai akhir Februari.
Klaim Kemenangan dan Permintaan Maaf Iran
Dalam unggahannya, Trump menggambarkan situasi tersebut sebagai sebuah kekalahan historis bagi Iran. Ia menyatakan bahwa negara tersebut, yang menurutnya "sedang dihantam habis-habisan," kini telah menyerah.
"Iran, yang sedang dihantam habis-habisan, telah meminta maaf dan menyerah kepada negara-negara tetangganya di Timur Tengah dan berjanji tidak akan lagi menembaki mereka," tulisnya.
Mantan presiden itu bahkan menyebut peristiwa ini sebagai yang pertama dalam sejarah panjang kawasan. "Ini pertama kalinya dalam ribuan tahun Iran kalah dari negara-negara Timur Tengah di sekitarnya," ungkapnya. Lebih lanjut, Trump mengklaim sejumlah negara di kawasan telah menyampaikan rasa terima kasih secara langsung kepadanya.
Ancaman Eskalasi Militer
Di sisi lain, dalam narasi yang tampak bertolak belakang, Trump juga diketahui mengancam akan melakukan serangan besar-besaran. Laporan dari kantor berita Rusia, RIA Novosti, mengutip rencana Trump untuk menghantam Iran "sangat keras" pada hari Sabtu tersebut, dengan memperluas daftar target serangan.
"Hari ini Iran akan dihantam sangat keras. Wilayah dan kelompok orang yang sebelumnya tidak dipertimbangkan sebagai target kini sedang dipertimbangkan untuk dihancurkan sepenuhnya," tulis Trump dalam ancamannya, yang semakin menambah suasana ketidakpastian.
Bantahan dan Ketegangan yang Berlanjut
Hingga saat ini, belum ada konfirmasi atau pernyataan resmi dari pemerintah Iran maupun negara-negara Teluk terkait klaim permintaan maaf yang disampaikan Trump. Klaim tersebut justru berhadapan dengan pernyataan sikap resmi dari Iran yang menyatakan tekad untuk terus bertahan.
Perwakilan Tetap Iran untuk PBB, Amir Saeid Iravani, sebelumnya telah menegaskan posisi negaranya. Ia menyatakan bahwa Iran akan terus membela diri dan bertahan sampai agresi dihentikan.
Iran akan bertahan sampai agresi dan "tindakan barbar Amerika Serikat dan Israel" dihentikan, kata Iravani.
Ketegangan ini memang melonjak setelah serangan udara AS dan Israel yang dimulai pada 28 Februari. Serangan-serangan yang dilaporkan menimbulkan korban jiwa yang signifikan, termasuk di antaranya sejumlah siswi sekolah, itu kemudian dibalas oleh Iran dengan serangan drone dan rudal yang menargetkan fasilitas terkait AS di kawasan Teluk. Situasi ini meninggalkan klaim Trump sebagai sebuah pernyataan yang belum terbuktikan di tengah landscape konflik yang masih sangat dinamis dan berbahaya.
Artikel Terkait
Gempa Magnitudo 5,7 Guncang Perairan Lebong, BMKG Pastikan Tak Berpotensi Tsunami
Panglima TNI Instruksikan Status Siaga Satu, Antisipasi Ketegangan Timur Tengah
Menteri Kehutanan Serahkan SK Perhutanan Sosial 560 Hektare untuk 411 KK di Lombok
Presiden Iran Minta Maaf ke Negara Tetangga, Trump Nilai Kelemahan