BMKG Jambi Peringatkan Potensi Banjir Rob di Dua Kabupaten Pesisir Akhir Maret

- Minggu, 22 Maret 2026 | 09:50 WIB
BMKG Jambi Peringatkan Potensi Banjir Rob di Dua Kabupaten Pesisir Akhir Maret

PARADAPOS.COM - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Kelas I Sultan Thaha Jambi mengeluarkan peringatan dini kepada warga di dua wilayah pesisir. Masyarakat Kabupaten Tanjung Jabung Timur dan Tanjung Jabung Barat diimbau waspada terhadap potensi banjir rob atau banjir pasang laut yang diperkirakan melanda kawasan pesisir timur provinsi Jambi pada 23 hingga 26 Maret 2026.

Penyebab Utama: Fase Bulan Baru dan Perigee

Peringatan ini dikeluarkan setelah analisis kondisi astronomis yang mempengaruhi pasang surut air laut. Menurut penjelasan resmi dari petugas forecaster yang bertugas, fenomena alam ini dipicu oleh kombinasi dua faktor utama.

Forecaster On Duty BMKG Jambi, Benedy Fajar, menegaskan, "Terdapat potensi banjir Rob di wilayah perairan Timur Jambi akibat fase bulan baru dan fase perigee."

Kondisi Gelombang Tetap Kondusif untuk Nelayan

Di tengah peringatan tersebut, ada kabar yang cukup melegakan bagi para pelaku aktivitas laut. Data pemantauan BMKG menunjukkan bahwa tinggi gelombang di perairan yang sama selama periode seminggu ke depan justru diprakirakan relatif aman.

Gelombang diperkirakan berada dalam kategori tenang hingga rendah, dengan ketinggian hanya berkisar antara 0,1 meter hingga maksimal 1,5 meter. Kondisi laut yang seperti ini umumnya masih dianggap cukup kondusif untuk operasional kapal-kapal berukuran kecil dan aktivitas penangkapan ikan tradisional.

Benedy Fajar mengonfirmasi hal ini, "Dalam seminggu ke depan tinggi gelombang di perairan Timur Jambi diperkirakan dalam kategori tenang hingga rendah mulai 0.1 meter hingga 1.5 meter."

Meski demikian, pihak berwenang menekankan bahwa dua kondisi yang tampaknya bertolak belakang ini—potensi banjir rob dan gelombang rendah—dapat terjadi secara bersamaan. Banjir rob lebih dipengaruhi oleh pasang surut astronomis yang ekstrem, sementara tinggi gelombang berkaitan dengan kondisi angin dan cuaca di laut lepas. Kesiapsiagaan masyarakat pesisir, terutama di daerah yang sering terdampak, tetap menjadi kunci untuk meminimalisir risiko.

Editor: Yoga Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar