Lebih dari 200 Diaspora Indonesia Rayakan Idulfitri dengan Khidmat di Stockholm

- Minggu, 22 Maret 2026 | 15:50 WIB
Lebih dari 200 Diaspora Indonesia Rayakan Idulfitri dengan Khidmat di Stockholm

PARADAPOS.COM - Lebih dari dua ratus diaspora Indonesia di Swedia merayakan Idulfitri dengan khidmat di Stockholm utara, mempertahankan tradisi dan kebersamaan di tengah tantangan inflasi tinggi dan jarak yang jauh dari tanah air. Perayaan yang digelar di kawasan Husby ini menjadi bukti solidaritas warga Indonesia yang tinggal di berbagai penjuru negeri Skandinavia, dari keluarga, pelajar, hingga para profesional.

Kebersamaan di Tengah Tekanan Inflasi

Suasana hangat dan penuh syukur terasa di sebuah ruang serba guna di Husby, Stockholm. Di sana, ratusan warga Indonesia berkumpul untuk salat Id berjamaah dan berbagi hidangan tradisional. Acara yang diselenggarakan komunitas pengajian Al Ikhlas bersama KBRI Stockholm ini berlangsung sederhana namun penuh makna, sebuah pilihan yang disengaja menyikapi melonjaknya biaya hidup di Eropa.

Ketua Komunitas Al Ikhlas Stockholm, Edo Widiyadi, mengakui adanya tantangan logistik yang nyata. "Biaya konsumsi meningkat seiring dengan inflasi di Swedia yang mencapai 10 hingga 15 persen. Meskipun anggaran membengkak, alhamdulillah kami tetap bisa menyediakan sekitar 320 paket hidangan tradisional untuk para jemaah sebagai pengobat rindu kampung halaman," jelasnya.

Kesederhanaan yang Menghasilkan Kesan Mendalam

Kehadiran Duta Besar RI untuk Swedia, Yayan Ganda Hayat Mulyana, semakin melengkapi suasana kekeluargaan. Ia menyoroti nilai-nilai yang justru menguat dalam kesederhanaan.

"Kami merasakan kehangatan keluarga dan persaudaraan yang sangat kuat. Merayakan Idulfitri dalam kesederhanaan dan ketakwaan di sini memberikan kesan mendalam," tutur Dubes Yayan.

Perjalanan Panjang Mencari "Keluarga Baru"

Bagi banyak diaspora yang tersebar di kota-kota kecil Swedia, perayaan di Stockholm ibarat mudik mini. Mereka rela menempuh perjalanan panjang, bahkan ratusan kilometer, demi merasakan kebersamaan yang sulit ditemui di tempat tinggalnya sehari-hari. Alivia, misalnya, harus memulai perjalanan naik kereta dari Arblom sejak pukul lima pagi, menempuh waktu 3,5 jam.

Semangat serupa diungkapkan Yassirullah, seorang pelajar. "Di kota kecil tidak ada komunitas Indonesia, jadi datang ke Stockholm rasanya seperti mudik. Meskipun harus menggunakan tabungan karena biaya transportasi yang tidak murah bagi pelajar, kebersamaan ini sangat berharga," ungkapnya.

Pertimbangan Realistis di Perantauan

Di balik semangat berkumpul, ada berbagai pertimbangan praktis yang membuat mudik ke Indonesia tahun ini terasa berat. Bukan hanya faktor ekonomi, tetapi juga kendala administratif dan logistik yang kompleks. Risma, salah seorang diaspora, memaparkan alasan keluarganya memutuskan untuk tetap di Swedia.

"Kita tidak bisa mengizinkan anak bolos sekolah lebih dari dua minggu. Selain itu, banyak berita mengenai pembatalan penerbangan akibat kendala teknis dan blokade di beberapa jalur udara, sehingga menetap di Swedia menjadi pilihan paling realistis tahun ini," papar Risma.

Memaknai Lebaran dengan Cara Mereka

Pada akhirnya, perayaan di Stockholm ini menunjukkan bagaimana makna Idulfitri tetap hidup dan dirawat, meski jauh dari kampung halaman. Keterbatasan anggaran, jarak, dan waktu tidak lantas memutus tali silaturahmi. Justru, dalam kondisi tersebut, nilai kebersamaan, gotong royong, dan keinginan untuk melestarikan tradisi tampak semakin menguat, menciptakan sebuah "rumah" baru di tengah dinginnya Eropa.

Editor: Rico Ananda

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar