PARADAPOS.COM - Harga minyak mentah dunia kembali terdongkrak pada perdagangan Senin (23/3/2026) menyusul eskalasi ketegangan geopolitik di kawasan Teluk Persia. Kenaikan ini dipicu oleh ultimatum Presiden Amerika Serikat Donald Trump kepada Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu 48 jam, yang dijawab Teheran dengan ancaman pembalasan terhadap aset-aset strategis AS dan Israel. Situasi ini semakin memperketat pasokan minyak global yang sudah tertekan akibat konflik berkepanjangan.
Data Pasar: Brent dan WTI Menguat
Data pasar pada pagi hari di Singapura menunjukkan sentimen bullish yang kuat. Harga minyak patokan Brent untuk kontrak Mei tercatat naik 1,5 persen ke level US$113,90 per barel. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman yang sama melonjak lebih tajam, 2,1 persen, menjadi US$100,28 per barel. Lonjakan ini melanjutkan tren kenaikan yang telah berlangsung sejak akhir Februari lalu, di mana harga Brent telah melesat lebih dari 50 persen.
Ultimatum Trump dan Ancaman Balasan Iran
Pemicu utama volatilitas pasar adalah pernyataan keras dari Gedung Putih. Presiden Trump memberi waktu 48 jam kepada pemerintah Iran untuk membuka akses pelayaran di Selat Hormuz—jalur vital bagi sepertiga minyak laut global—atau menghadapi serangan terhadap pembangkit listrik mereka. Ultimatum yang disampaikan pada Sabtu malam waktu New York itu langsung mendapat reaksi keras dari Teheran.
Pihak Iran membalas dengan ancaman akan menargetkan seluruh infrastruktur energi, teknologi, dan desalinasi milik AS serta Israel di kawasan tersebut, jika fasilitas energi mereka sendiri diserang. Ancaman balasan ini semakin mempersulit peluang de-eskalasi dan memperpanjang ketidakpastian di pasar.
Analisis dari Pakar Pasar Energi
Para pengamat pasar menilai langkah Trump justru mempersempit ruang diplomatik. Rory Johnston, peneliti pasar minyak dan pendiri Commodity Context Corp., menyoroti risiko dari kebijakan yang ditempuh AS.
"Sekarang dengan tenggat waktu 48 jam ini, Trump telah memojokkan dirinya sendiri. Sangat tidak mungkin Teheran akan menyetujui persyaratan Trump dalam jangka waktu yang dipercepat di bawah ancaman serangan. Dan Iran jelas mampu dan bersedia untuk menandingi eskalasi apa pun," ungkap Johnston.
Dampak terhadap Pasokan dan Peringatan IEA
Dengan lalu lintas maritim melalui Selat Hormuz yang praktis terhenti, kecuali untuk beberapa kapal yang diizinkan Iran, produsen minyak di kawasan Teluk terpaksa menahan pasokan atau mencari rute ekspor alternatif yang lebih mahal dan terbatas. Kondisi ini telah mendorong Badan Energi Internasional (IEA) untuk mengeluarkan peringatan serius.
Lembaga tersebut menyatakan pasar minyak global sedang menghadapi salah satu guncangan pasokan terbesar dalam sejarah, meskipun negara-negara anggota telah melakukan pelepasan cadangan minyak darurat secara besar-besaran. Kekhawatiran utama adalah tekanan inflasi global yang dapat membawa gejolak lebih luas ke pasar keuangan.
Kebijakan AS yang Terlihat Berbelok
Kompleksitas situasi ini diperparah oleh pesan yang tampak tidak konsisten dari pemerintahan AS. Menariknya, tak lama sebelum mengeluarkan ultimatum keras, Presiden Trump sempat menyatakan sedang mempertimbangkan untuk meredakan operasi militer terhadap Iran. Dinamika kebijakan yang berubah-ubah ini menambah kesulitan investor dalam memprediksi arah konflik.
Di sisi lain, pemerintah AS juga mengambil langkah yang tampak kontradiktif dengan mengizinkan penjualan kargo minyak dan produk petrokimia Iran yang sudah berada di atas kapal tanker hingga pertengahan April 2026. Kebijakan ini mirip dengan kelonggaran yang sebelumnya diberikan untuk minyak Rusia, yang bertujuan menstabilkan harga di pasar fisik.
Konflik Militer yang Terus Berlanjut
Sementara perang kata-kata berlangsung, pertukaran serangan militer di lapangan terus terjadi. AS dan Israel dilaporkan masih menargetkan lokasi-lokasi di Iran, termasuk ibukota Teheran, pada Minggu kemarin. Sebaliknya, Iran juga terus melancarkan serangan rudal dan drone ke Israel serta negara-negara Teluk Arab.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent dalam sebuah wawancara televisi menegaskan komitmen administrasi Trump. "Trump akan mengambil langkah apa pun yang diperlukan untuk mencapai tujuan termasuk menghancurkan angkatan udara dan angkatan laut Iran dan mencegahnya memiliki senjata nuklir," tegas Bessent, menggarisbawahi tujuan strategis jangka panjang Washington di balik konflik ini.
Artikel Terkait
Pemkab Jember Siapkan Kebijakan WFH untuk ASN Antisipasi Dampak Gejolak Minyak Dunia
Geopolitik Timur Tengah Picu Koreksi Bitcoin dan Aset Kripto
Pemerintah Imbau Hindari Tiga Hari Puncak Arus Balik Lebaran 2026
Real Madrid Kalahkan Atletico 3-2 dalam Derby Sengit, Bertahan dengan 10 Pemain