PARADAPOS.COM - PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) menutup tahun fiskal 2025 dengan catatan kinerja yang mengesankan, melampaui target yang mereka tetapkan sendiri di tengah kondisi ekonomi global yang bergejolak. Emiten manufaktur bahan bangunan plastik ini membukukan pendapatan Rp4,3 triliun, tumbuh 10,1% dari tahun sebelumnya, sementara laba bersihnya melonjak 15% menjadi Rp620 miliar.
Kinerja 2025 Melampaui Ekspektasi
Pertumbuhan yang solid tersebut tidak datang dengan mudah. Realisasi pendapatan Rp4,3 triliun dan laba bersih Rp620 miliar itu justru berada di atas ambang batas yang dicanangkan perusahaan untuk tahun 2025, yaitu masing-masing Rp4,2 triliun dan Rp600 miliar. Pencapaian ini menunjukkan ketahanan operasional perseroan dalam navigasi tantangan pasar.
Namun, di balik angka-angka positif itu, manajemen menyimpan kewaspadaan tinggi. Geopolitik global yang memanas disebut sebagai sumber ketidakpastian utama yang berpotensi mengganggu stabilitas ke depan.
"Ketegangan geopolitik yang terjadi saat ini telah mendorong lonjakan harga komoditas global dan meningkatkan ketidakpastian pasar, sehingga membuat prospek 2026 menjadi semakin menantang," ungkap Direktur Utama IMPC, Haryanto Tjiptodihardjo, dalam keterangan tertulis, Selasa, 31 Maret 2026.
"Menyikapi kondisi tersebut, manajemen akan terus memperkuat efisiensi operasional serta mengambil langkah yang cermat dan adaptif guna untuk menghadapi berbagai tantangan sekaligus menjaga kinerja perusahaan tetap solid," tegasnya.
Target Ambisius untuk Tahun 2026
Meski menyadari tantangan yang membayang, IMPC tidak menarik ambisi mereka. Perseroan dengan teguh mempertahankan target kinerja yang telah diumumkan untuk tahun fiskal 2026. Mereka menargetkan pendapatan mampu meroket hingga Rp5,1 triliun, dengan laba bersih diproyeksikan menembus angka di atas Rp700 miliar.
Untuk mewujudkan target tersebut, langkah awal di kuartal pertama tahun ini menjadi krusial. Perusahaan menargetkan pendapatan pada periode Januari-Maret 2026 berada dalam kisaran Rp1,1 triliun hingga Rp1,2 triliun, sebuah patokan yang akan menjadi indikator awal kemampuan mereka menjalankan strategi di tengah gejolak pasar.
Artikel Terkait
Pemerintah Siapkan WFH Nasional Satu Hari per Pekan untuk Hemat BBM Subsidi
Turki Akhiri Puasa 24 Tahun, Lolos ke Piala Dunia 2026 Usai Kalahkan Kosovo
Tiga Prajurit TNI Gugur dalam Misi Perdamaian UNIFIL di Lebanon
Indonesia Desak DK PBB Gelar Sidang Darurat Usai Tiga Peacekeeper Gugur di Lebanon