PARADAPOS.COM - Nilai tukar rupiah yang terus merosot hingga menembus level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) menjadi sinyal menurunnya kepercayaan pasar terhadap fundamental ekonomi Indonesia. Kepala Riset Fraus Kapital, Alfred Nainggolan, menilai tekanan ini tidak bisa semata-mata dikaitkan dengan faktor global. Dalam wawancaranya dengan CNN TV yang dikutip pada Sabtu, 6 Juni 2026, ia mengungkapkan bahwa depresiasi rupiah yang mendekati 7 persen sejak awal tahun memang belum menjadi rekor terburuk. Namun, jika dibandingkan dengan negara-negara lain, dampak yang dialami Indonesia jauh lebih dalam.
Faktor Global Tidak Sepenuhnya Menjadi Penyebab
Alfred menekankan bahwa jika pelemahan rupiah murni disebabkan oleh kondisi global, seharusnya negara-negara lain mengalami tekanan yang relatif serupa. Kenyataannya, Indonesia justru terkena dampak yang lebih besar. “Kalau penyebabnya murni faktor global, negara lain seharusnya mengalami tekanan yang relatif sama. Faktanya, Indonesia terkena dampak lebih besar,” ujarnya.
Menurutnya, pasar mulai mempertanyakan arah kebijakan ekonomi pemerintah. Ada kekhawatiran bahwa sejumlah persoalan struktural yang sudah lama belum terselesaikan mulai mempengaruhi sentimen investor. Langkah-langkah yang diambil Bank Indonesia, seperti menaikkan suku bunga, melakukan intervensi di pasar valas, hingga membeli obligasi, dinilai belum cukup untuk mengembalikan kepercayaan.
Kekhawatiran Pasar terhadap Reformasi Ekonomi
Alfred menambahkan, pasar justru cemas akan adanya kemunduran dalam reformasi ekonomi yang sebelumnya menjadi daya tarik utama Indonesia. Beberapa kebijakan yang membutuhkan anggaran besar, namun belum menunjukkan manfaat ekonomi yang jelas, turut memperkuat kekhawatiran tersebut. “Persoalan yang dilihat pasar saat ini bukan jangka pendek, melainkan fundamental. Selama itu belum dijawab, tekanan terhadap rupiah berpotensi berlanjut,” kata Alfred.
Dampak ke Sektor Riil Mulai Terasa
Pelemahan rupiah tidak hanya menekan sentimen investor, tetapi juga mulai berdampak pada sektor riil. Depresiasi mata uang meningkatkan biaya impor, yang pada akhirnya menekan surplus neraca perdagangan Indonesia. Alfred menilai bahwa tanpa perbaikan fundamental, tekanan terhadap rupiah kemungkinan besar akan terus berlanjut.
Editor: Bagus Kurnia
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Menteri Keuangan Sebut Pelemahan IHSG dan Rupiah Akibat Persepsi Negatif, Bukan Fundamental Ekonomi
KAI Daop 6 Beri Diskon 30 Persen untuk 30 Kereta Ekonomi Selama Libur Sekolah
IPB University Buka Lowongan 9 Posisi, dari Staf HRD hingga Operator Pertanian
Rektor UI Apresiasi Debut Perdana Kemenhaj: Sukses Kelola Haji 2026, Dorong Ekosistem Ekonomi Mandiri