Bupati Jember Lantik Forum Komunikasi Pesantren dan Guru Ngaji, Tekankan Peran sebagai Benteng Akhlak Bangsa

- Rabu, 17 Juni 2026 | 14:00 WIB
Bupati Jember Lantik Forum Komunikasi Pesantren dan Guru Ngaji, Tekankan Peran sebagai Benteng Akhlak Bangsa

PARADAPOS.COM - Bupati Jember, Muhammad Fawait, secara resmi melantik Forum Komunikasi Pondok Pesantren dan Guru Ngaji di Pendapa Wahyawibawagraha pada hari yang sama dengan acara tersebut. Inisiatif ini dihadiri oleh tokoh lintas agama, pengasuh pesantren, guru ngaji, dan perwakilan organisasi kemasyarakatan. Forum ini dibentuk sebagai ruang strategis untuk mempererat sinergi serta menjadi wadah pertukaran gagasan pembangunan di Kabupaten Jember.

Suasana di Pendapa Wahyawibawagraha tampak khidmat saat para peserta duduk melingkar. Mereka tidak hanya datang untuk menghadiri seremoni, melainkan juga untuk berdialog secara langsung. Berbagai persoalan dibahas dalam pertemuan tersebut, mulai dari isu kebangsaan hingga perkembangan ekonomi nasional yang tengah menjadi perhatian publik.

Pesantren sebagai Benteng Akhlak Bangsa

Dalam sambutannya, Bupati yang akrab disapa Gus Fawait itu menekankan peran fundamental lembaga pendidikan keagamaan. Ia menyebut pesantren dan para guru ngaji sebagai garda terdepan dalam menjaga moral masyarakat.

“Hari ini pesantren dan guru ngaji menurut saya adalah benteng dari akhlak bangsa Indonesia,” ujar Gus Fawait di hadapan para undangan.

Lebih lanjut, ia menyoroti derasnya arus informasi yang masuk melalui media sosial. Menurutnya, kemajuan teknologi telah mengubah pola komunikasi publik secara drastis, dan hal ini perlu disikapi dengan kewaspadaan.

Menghadapi Narasi Negatif di Ruang Digital

Gus Fawait mengingatkan bahwa di era digital ini, ada upaya sistematis untuk menggiring opini. Ia meminta para tokoh agama untuk tidak mudah terpancing oleh informasi yang belum terverifikasi.

“Ada upaya menggiring opini dan memengaruhi masyarakat untuk mencaci maki pemimpin kita. Ini harus disikapi dengan bijak,” tuturnya memberikan peringatan tegas.

Ia pun mendorong para peserta untuk selalu merujuk pada data faktual ketika menilai situasi nasional. Menurutnya, masyarakat tidak boleh mudah percaya pada narasi negatif yang berkembang liar di ruang digital tanpa melakukan klarifikasi terlebih dahulu.

Fundamental Ekonomi yang Relatif Kuat

Dalam sesi diskusi, Gus Fawait juga meluruskan persepsi publik mengenai kondisi ekonomi. Ia membandingkan situasi saat ini dengan masa krisis di akhir tahun 1990-an.

“Kalau berbicara nilai tukar rupiah, kondisi hari ini tidak bisa disamakan dengan tahun 1998. Faktanya tidak seperti itu,” pungkasnya.

Pemerintah daerah meyakini bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih dalam kondisi yang relatif kuat. Dengan cadangan devisa negara yang aman, langkah menuju swasembada pangan di Jember dinilai memiliki fondasi yang kokoh untuk terus diupayakan.

Editor: Annisa Rachmad

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar