PARADAPOS.COM - Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Jenderal TNI (Purn.) Dudung Abdurachman menyatakan bahwa hingga saat ini belum ditemukan unsur kelalaian dalam kasus meninggalnya empat orang peserta Latihan Dasar Militer (Latsarmil) Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI). Pernyataan tersebut disampaikan Dudung di Gedung Bina Graha, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Kamis (25/6/2026). Pemerintah, menurutnya, masih melakukan evaluasi menyeluruh atas insiden yang menewaskan empat orang tersebut, serta menyampaikan belasungkawa sedalam-dalamnya kepada keluarga korban.
Evaluasi Pemerintah dan Temuan Awal
Dudung menjelaskan bahwa proses investigasi masih berlangsung. Ia mengonfirmasi bahwa pemerintah, melalui Sekretaris Negara (Sesneg), belum menerima indikasi adanya kelalaian dalam pelaksanaan latihan.
“Ada latihan militer yang memang sedang dievaluasi dan mendapat informasi dari Sesneg belum ada tingkat kelalaiannya, ya,” kata Dudung saat ditemui awak media, Jumat (26/6/2026).
Ia menambahkan, kematian peserta tidak serta-merta dapat dikaitkan dengan aktivitas latihan militer.
“Karena memang ya namanya meninggal mungkin kan tidak serta-merta (karena) latihan militer,” ujarnya.
Program Latsarmil Tetap Berlanjut
Meskipun korban jiwa telah mencapai empat orang, Dudung menegaskan bahwa program Latsarmil SPPI tidak akan dihentikan. Pemerintah justru akan memperkuat proses evaluasi dan investigasi untuk mencari penyebab pasti kematian para peserta.
Menurutnya, langkah ini diambil agar program tetap berjalan tanpa mengabaikan aspek keselamatan. Ia juga menekankan bahwa seluruh peserta telah menjalani skrining kesehatan sebelum mengikuti pelatihan.
“Sebelum pelaksanaan pelatihan itu dilakukan tes kesehatan. Semua saya rasa dilakukan tes kesehatan,” ungkap Dudung.
Faktor Fisik dan Mental Peserta
Dalam keterangannya, Dudung juga menyoroti kemungkinan faktor individu yang memengaruhi kondisi peserta selama latihan. Ia menyebut ada kemungkinan peserta tidak mampu secara fisik atau mental menghadapi tekanan pelatihan.
“Cuma memang di dalam proses pelatihan itu mungkin ada yang secara mental, secara fisik yang tidak kuat. Atau ya lebih kepada faktor-faktor lain lah mungkin ya namanya kematian kita tidak bisa memungkiri, ya. Karena sudah kehendak Yang Mahakuasa,” tuturnya.
Pernyataan ini menimbulkan beragam reaksi, terutama dari keluarga korban dan pengamat militer yang mendesak transparansi penuh dalam investigasi. Namun, hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi lebih lanjut dari pihak TNI atau KSP mengenai perkembangan penyelidikan.
Editor: Laras Wulandari
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Prancis Sempurna di Fase Grup Piala Dunia 2026, Norwegia Tempati Runner-Up
Berlayar dengan Kapal Layar Tradisional, Aqua Luna Tawarkan Perspektif Baru Victoria Harbour Hong Kong
Presiden Terpilih Kolombia Tunjuk Anak Korban Pembunuhan Pablo Escobar sebagai Calon Menteri Dalam Negeri
10.395 Sarjana dari 1.952 Kampus Daftar Program Transmigrasi Patriot, Fokus Pengabdian ke Papua