PARADAPOS.COM - Tiga unit rumah modular tahan gempa buatan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Dusun Rangko, Desa Tanjung Boleng, Kabupaten Manggarai Barat, NTT, terbukti kokoh bertahan dari guncangan gempa bumi magnitudo 7,7 yang terjadi pada Sabtu, 15 Agustus 2026 lalu. Bangunan yang difungsikan sebagai rumah dinas SD Negeri Rangko ini tidak mengalami kerusakan struktural berarti, sehingga para penghuni, termasuk Fahrudin sekeluarga, dapat kembali beraktivitas normal di dalam rumah. Ketahanan bangunan ini menjadi bukti nyata kinerja teknologi modular dalam mitigasi bencana.
Uji Nyata di Lapangan: Guncangan 7,7 Magnitudo
Peristiwa gempa dahsyat yang berpusat di laut tersebut menjadi ujian sesungguhnya bagi konstruksi rumah modular yang dibangun BRIN pada periode 2021-2022. Saat guncangan terjadi, penghuni sempat panik dan berlarian keluar rumah. Namun, setelah gempa mereda, pemeriksaan menyeluruh menunjukkan hasil yang menggembirakan. Fondasi, kolom, dan dinding bangunan dilaporkan tetap utuh tanpa ditemukan retakan atau kerusakan struktural yang membahayakan.
Fahrudin, salah seorang penghuni rumah dinas, menuturkan pengalamannya saat gempa melanda. Ia mengaku sempat berlari keluar rumah karena panik, namun setelah guncangan kedua, ia bersama keluarga memutuskan untuk kembali masuk dan memeriksa kondisi bangunan. Hasilnya, rumah mereka aman dan tidak ada kerusakan sama sekali.
"Pada saat gempa kemarin rumah memang goyang kami lari keluar sampai di halaman rumah dan Alhamdulilah sampai guncangan kedua rumah setelah diperiksa aman tidak ada yang rusak sama sekali," kata Fahrudin, Kamis, 20 Agustus 2026.
Teknologi Panel Sandwich EPS: Kunci Ketahanan
Keunggulan rumah modular ini terletak pada penggunaan teknologi panel sandwich berbahan expanded polystyrene (EPS). Material ini dikombinasikan dengan sistem modular yang dirancang dengan pendekatan terstruktur. Konsepnya, setiap komponen bangunan dirancang dan dirakit secara presisi, sehingga menciptakan struktur yang saling mengunci dan mampu meredam energi gempa. Pembangunan tiga unit rumah dinas ini dilakukan secara bertahap, menunjukkan komitmen BRIN dalam menghadirkan hunian yang aman dan layak bagi masyarakat di daerah rawan bencana.
Pascagempa, ketiga rumah tersebut langsung dapat difungsikan kembali. Aktivitas sehari-hari para penghuni, termasuk guru dan keluarga yang tinggal di kompleks SD Negeri Rangko, berjalan seperti biasa. Kondisi ini menjadi indikator penting bahwa teknologi yang dikembangkan tidak hanya unggul dalam teori, tetapi juga terbukti andal saat menghadapi bencana alam sesungguhnya. Ketahanan bangunan ini menjadi preseden positif bagi pengembangan infrastruktur tahan gempa di Indonesia, khususnya di wilayah timur yang memiliki risiko seismik tinggi.
Keberhasilan ini juga menjadi bahan evaluasi penting bagi para insinyur dan peneliti untuk terus menyempurnakan desain serta material bangunan. Dengan demikian, ke depannya, teknologi rumah modular ini dapat direplikasi secara lebih luas untuk memberikan perlindungan optimal bagi masyarakat yang tinggal di zona rawan gempa.
Artikel Terkait
Mediasi Gagal, Perebutan Hak Asuh Anak Ruben Onsu vs Sarwendah Lanjut ke Sidang Pokok Perkara
Pengamat: Prabowo Wajib Reshuffle Kabinet Sebelum 20 Oktober 2026, Isi 60 Persen Kursi dengan Profesional
Kosmak Desak Kejagung Terbitkan Sprindik Baru, Ungkap Dugaan Pemerasan Jaksa dan Transaksi Repo Rp5 Triliun di Kasus Jiwasraya-Asabri
KRL Bogor dan Tangerang Terganggu Usai Tertemper Orang dan Motor di Perlintasan