Partai Golkar Terancam Jeblok di Pemilu 2024: Penyebab, Kritik Kader, dan Solusi

- Minggu, 21 Desember 2025 | 01:00 WIB
Partai Golkar Terancam Jeblok di Pemilu 2024: Penyebab, Kritik Kader, dan Solusi
Partai Golkar Terancam Jeblok di Pemilu, Ini Penyebab dan Seruan Penyelesaiannya

Partai Golkar Terancam Jeblok di Pemilu Mendatang, Kader Sebut Bahlil Cs Penyebabnya

Partai Golkar dinilai memiliki peluang besar untuk mengalami penurunan suara atau jeblok di Pemilu mendatang. Ancaman ini disebut-sebut berasal dari ulah pucuk pimpinan partai sendiri.

Kritik Pedas dari Kader Internal Golkar

Wakil Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan HAM DPD Partai Golkar Sumatera Utara, Riza Fakhrumi Tahir, menyampaikan kritik pedas. Menurutnya, kerja politik Ketum Bahlil Lahadalia, Sekjen Muhammad Sarmuji, dan Waketum Ahmad Doli Kurnia Tandjung saat ini lebih menguntungkan partai politik lain, bukan untuk kepentingan Golkar.

Riza menegaskan bahwa ketiganya adalah orang yang paling bertanggung jawab atas pelemahan yang terjadi di tubuh Partai Golkar. "Tidak layak mereka berada di pucuk pimpinan Golkar. Mereka pengkhianat. Harus disingkirkan," tegas Riza yang juga Ketua Bidang Organisasi MW KAHMI Sumut.

Peringatan Ancaman Degradasi dan Seruan Penyelesaian

Riza memperingatkan bahwa di bawah kepemimpinan Bahlil dan Sarmuji, posisi Golkar dalam kondisi sangat rawan. Partai berlogo pohon beringin ini disebut terancam degradasi pada Pemilu yang akan datang.

Oleh karena itu, Riza mengimbau para sesepuh dan mantan ketua umum Partai Golkar untuk segera turun tangan. Nama-nama seperti Akbar Tandjung, Jusuf Kalla, Aburizal Bakrie, Agung Laksono, Setya Novanto, dan Airlangga Hartarto diminta menyelamatkan Golkar dari krisis ini.

Riza juga mengingatkan agar kasus pemberhentian Ijeck (Ichsan Fauzi) di Sumut tidak dianggap sepele, karena berpotensi berimplikasi secara nasional terhadap kondisi partai.

Editor: Joko Susilo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar