PARADAPOS.COM - Sejumlah komandan di berbagai cabang militer Amerika Serikat dilaporkan menyampaikan narasi religius kepada anak buahnya, yang mengaitkan potensi konflik dengan Iran dengan nubuat akhir zaman dalam kepercayaan Kristen. Keluhan terkait hal ini, yang diterima sebuah yayasan kebebasan beragama, menyebut para perwira itu menggambarkan perang semacam itu sebagai bagian dari rencana ilahi yang akan memicu Armageddon dan kembalinya Yesus Kristus ke Bumi.
Gelombang Keluhan dari Berbagai Kesatuan
Military Religious Freedom Foundation (MRFF), organisasi yang fokus pada jaminan kebebasan beragama bagi personel militer AS, mengaku telah menerima lebih dari 200 aduan dari prajurit yang merasa tidak nyaman. Keluhan-keluhan tersebut, yang pertama kali diungkap oleh jurnalis Jonathan Larsen, berasal dari personel yang bertugas di angkatan darat, laut, udara, marinir, hingga angkatan luar angkasa. Cakupannya cukup luas, meliputi lebih dari 40 unit berbeda di setidaknya 30 instalasi militer.
Dari berbagai laporan yang masuk, tergambar pola pengarahan yang mengkhawatirkan. Salah satu komandan unit tempur disebutkan secara khusus menyampaikan pesan tersebut kepada para bintara pada awal pekan.
“Presiden Trump telah diurapi oleh Yesus untuk menyalakan 'api sinyal' di Iran untuk menyebabkan Armagedon dan menandai kembalinya Dia ke Bumi,” ujar komandan tersebut, seperti dikutip seorang bintara dalam pengaduannya kepada MRFF.
Bintara yang melaporkan kejadian itu juga menambahkan kesan pribadinya terhadap sang komandan.
“Dia tersenyum lebar ketika mengatakan semua ini, yang membuat pesannya tampak lebih gila lagi,” tulisnya.
Lebih dari Sekedar Insiden Tunggal
Menurut pendiri MRFF, Michael L. Weinstein, fenomena ini bukanlah kasus terisolasi yang dilakukan oleh satu atau dua perwira "nakal". Sebagai veteran Angkatan Udara AS, Weinstein melihatnya sebagai gejala dari pengaruh yang lebih dalam. Ia menyoroti semakin kuatnya paham nasionalis dan fundamentalis Kristen dalam tubuh militer Amerika Serikat.
“Ini bukan hanya satu komandan yang 'nakal',” tegas Weinstein, merujuk pada tren yang menurutnya perlu diwaspadai.
Kekhawatiran itu mendapat konteksnya dengan adanya figur seperti Menteri Perang AS Pete Hegseth, yang dikenal sebagai nasionalis Kristen ultra-konservatif. Hegseth diketahui mensponsori studi Alkitab mingguan yang, seperti dilaporkan, mengajarkan dukungan tanpa syarat kepada Israel berdasarkan penafsiran tertentu terhadap nubuat Alkitab. Pemimpin studinya, Ralph Drollinger, mengajarkan bahwa Tuhan memberkati sekutu Israel dan mengutuk musuh-musuhnya.
Pola yang Berulang Pasca 7 Oktober
Weinstein mengungkapkan, MRFF mulai kembali dibanjiri keluhan serupa tentang teologi akhir zaman yang disampaikan di lingkungan militer pasca serangan Hamas terhadap Israel selatan pada 7 Oktober 2023. Saat itu, organisasinya menerima laporan tentang seorang komandan angkatan udara yang menyatakan dalam pengarahan bahwa perang antara Israel dan Hamas telah dinubuatkan dalam Kitab Wahyu dan tidak ada yang bisa mengubahnya.
Hingga berita ini diturunkan, Pentagon disebutkan belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar mengenai berbagai laporan tersebut. Situasi ini menyisakan pertanyaan tentang sejauh mana narasi religius tertentu telah menyusup ke dalam ranah komando operasional dan dampaknya terhadap netralitas serta moral pasukan.
Artikel Terkait
Analis Prediksi AS Hadapi Dilema Strategis dan Ekonomi dalam Potensi Perang dengan Iran
Prancis Kerahkan Kapal Induk Charles de Gaulle ke Mediterania Respons Eskalasi Timur Tengah
Israel Kerahkan Pasukan dan Perluas Peringatan Evakuasi di Perbatasan Lebanon
AS Perintahkan Warga Negara Segera Tinggalkan Timur Tengah, Waspadai Ancaman Iran