Utusan AS Akui Kebingungan Soal Akhir Konflik dengan Iran di Tengah Eskalasi

- Rabu, 11 Maret 2026 | 05:00 WIB
Utusan AS Akui Kebingungan Soal Akhir Konflik dengan Iran di Tengah Eskalasi

PARADAPOS.COM - Ketegangan militer antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran memasuki fase kritis, di tengah kebingungan di internal pemerintahan AS sendiri mengenai bagaimana konflik ini akan berakhir. Utusan khusus Presiden Donald Trump, Steve Witkoff, mengaku tidak tahu akhir dari operasi militer yang dimulai sejak serangan gabungan AS-Israel akhir Februari lalu. Pernyataan ini muncul saat Iran terus melancarkan serangan balasan, sementara perang justru semakin meluas dan memakan korban sipil.

Kebingungan Utusan Khusus di Tengah Eskalasi

Dalam wawancara dengan CNBC, Steve Witkoff, utusan khusus Gedung Putih, tampak kesulitan memproyeksikan jalan keluar dari konflik yang dipicu serangan AS-Israel terhadap target-target di Iran, termasuk di Teheran. Serangan awal yang diklaim sebagai langkah pencegahan terhadap ancaman program nuklir Iran itu justru memicu siklus balas-menyerang yang semakin sulit dikendalikan.

“Saya tidak tahu. Yang saya tahu, Presiden Donald Trump bukan sosok yang tepat untuk ditantang,” tuturnya, menggarisbawahi sikap keras Washington meski tanpa peta jalan yang jelas untuk meredakan ketegangan.

Duka dan Pergantian Kepemimpinan di Iran

Serangan pada 28 Februari lalu tidak hanya menyebabkan kerusakan fasilitas dan korban jiwa. Operasi itu juga dikabarkan merenggut nyawa Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Pemerintah Iran kemudian menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari, sebuah tradisi yang menandai duka yang mendalam. Dalam situasi genting ini, Majelis Pakar Iran dengan cepat menunjuk Mojtaba Khamenei, putra almarhum, sebagai pemimpin tertinggi yang baru.

Pergantian kekuasaan di tengah perang ini menambah lapisan kompleksitas pada konflik. Beberapa analis memandangnya sebagai faktor yang justru dapat memperpanjang eskalasi, karena pemimpin baru perlu membuktikan legitimasi dan ketegasannya di hadapan lembaga-lembaga militer dalam negeri.

Kecaman Internasional dan Siklus Serangan Balasan

Langkah AS dan Israel menuai kecaman keras dari sejumlah negara, dengan Rusia menjadi salah satu suara paling vokal. Presiden Vladimir Putin menyebut kematian Khamenei sebagai pelanggaran sinis terhadap hukum internasional yang berpotensi mengguncang stabilitas regional lebih jauh. Kremlin mendesak semua pihak untuk segera menghentikan permusuhan.

Namun, desakan deeskalasi tampaknya belum diindahkan. Serangan dari kedua belah pihak terus berlanjut hingga pekan kedua Maret. Israel melaporkan menyerang pusat komando, markas militer, dan fasilitas udara di berbagai kota Iran, termasuk Isfahan dan Teheran. Sebaliknya, Garda Revolusi Iran mengklaim telah menghancurkan pangkalan pengendali satelit kunci Israel yang vital untuk operasi intelijen dan penyerangan.

Analisis: Jarak antara Narasi dan Realita di Lapangan

Di tengah klaim Presiden Trump bahwa perang hampir berakhir, kenyataan di lapangan justru menunjukkan pertempuran yang masih berkecamuk. Pakar militer Brigjen Elias Hanna, dalam analisisnya, menyoroti kesenjangan antara pencapaian yang diklaim Washington-Tel Aviv dengan fakta di medan perang.

Dia mengungkapkan, tujuan strategis AS seperti pembubaran program nuklir dan rudal Iran jelas belum tercapai. Pergantian kepemimpinan juga tidak serta-merta menghentikan perlawanan Teheran.

“Pemimpin baru itu pasti akan duduk di meja perundingan pada saat tertentu, tapi dia akan semakin meningkatkan eskalasi untuk menunjukkan legitimasinya sebelum sampai ke momen politik itu,” jelas Hanna, menganalisis kemungkinan motif di balik serangan-serangan balasan Iran yang terus gencar.

Dia menambahkan, kurangnya latar belakang revolusioner dan agama Mojtaba Khamenei yang setara dengan ayahnya membuatnya perlu mendapatkan dukungan penuh dari institusi militer, yang mungkin menjelaskan sikap ofensif Iran pascapergantian pemimpin. Situasi ini menempatkan kawasan Timur Tengah dalam keadaan yang sangat tidak stabil, dengan perdamaian masih menjadi tanda tanya besar.

Editor: Wahyu Pradana

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar