JK Peringatkan Dampak Konflik Timur Tengah pada Subsidi BBM dan LPG Indonesia

- Sabtu, 07 Maret 2026 | 22:50 WIB
JK Peringatkan Dampak Konflik Timur Tengah pada Subsidi BBM dan LPG Indonesia

PARADAPOS.COM - Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla mengingatkan publik tentang potensi dampak ekonomi yang serius dari eskalasi konflik di Timur Tengah. Menurutnya, serangan Amerika Serikat terhadap Iran berpotensi memicu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan LPG secara global, yang pada gilirannya akan membebani anggaran subsidi pemerintah Indonesia. Pernyataan ini disampaikan JK dalam pertemuan dengan wartawan di kediamannya, Jakarta, Jumat (6/3/2026), menyusul kekhawatiran akan terganggunya stok dan pasokan energi nasional jika ketegangan internasional tersebut berlangsung lama.

Dampak Langsung pada Ekonomi dan Subsidi

Mantan orang nomor dua di Indonesia itu secara gamblang memaparkan konsekuensi finansial yang mungkin dihadapi negara. Ia menilai gejolak di kawasan penghasil minyak utama dunia itu akan langsung terasa di dalam negeri, terutama melalui saluran harga komoditas energi. Kenaikan harga di pasar internasional, menurut analisisnya, otomatis akan memperbesar beban subsidi yang harus ditanggung pemerintah untuk menjaga stabilitas harga di tingkat konsumen.

"Dampaknya ke Indonesia langsung terasa di ekonomi. Harga bahan bakar naik, harga LPG naik, dan itu berarti subsidi pemerintah akan semakin besar," jelasnya dalam keterangan resmi yang diterbitkan pada Sabtu (7/3/2026).

Kekhawatiran atas Ketahanan Energi Nasional

Lebih dalam, JK menyoroti kerentanan Indonesia dalam menghadapi gejolak pasokan energi global. Ia mengingatkan bahwa stok BBM nasional yang terbatas membuat negara ini perlu bersiap diri menghadapi segala kemungkinan. Situasi yang berlarut-larut, tegasnya, bukan hanya soal angka anggaran, tetapi berpotensi mengganggu denyut nadi kegiatan perekonomian dan dunia usaha secara nyata.

"Kalau perang berlangsung lama, stok BBM kita terbatas. Itu bisa menimbulkan kesulitan bagi kegiatan ekonomi dan bisnis," ungkapnya.

Panggilan untuk Diplomasi Tegas dan Evaluasi Kebijakan

Di luar aspek ekonomi, tokoh senior ini juga mendorong pemerintah untuk memiliki sikap politik yang jelas dan proaktif dalam merespons konflik. Sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia, Indonesia dinilainya memiliki modal diplomasi yang kuat untuk mengambil peran lebih signifikan dalam mendorong perdamaian, baik melalui jalur bilateral maupun forum-forum internasional.

Secara paralel, JK menekankan perlunya kewaspadaan fiskal. Ia menyarankan agar pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan ekonomi, khususnya dalam penataan prioritas belanja negara. Langkah ini dinilai krusial untuk menjaga ketahanan keuangan negara di tengah ketidakpastian global yang makin meningkat.

"Harus ada evaluasi total terhadap kebijakan ekonomi, khususnya dalam penggunaan anggaran. Negara harus menentukan prioritas agar pengeluaran tidak terlalu besar," tuturnya menegaskan.

Editor: Wahyu Pradana

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar