PARADAPOS.COM - Direktur Eksekutif Jaringan Moderat Indonesia, Islah Bahrawi, melaporkan adanya intimidasi dan pemantauan oleh orang tak dikenal (OTK) yang berlangsung sejak akhir Mei 2026. Peristiwa ini melibatkan pemantauan kediamannya di Madura dan Jakarta, pembuntutan aktivitas keluarga, serta penyampaian pesan verbal yang melarangnya bersikap vokal terhadap Presiden Prabowo. Laporan tersebut disampaikan Islah di kantor YLBHI, Jakarta Pusat, pada Jumat (5/6/2026), sebagai respons atas serangkaian tekanan yang dialaminya.
Suasana di kantor YLBHI, Jakarta Pusat, Jumat sore itu terasa tegang. Islah Bahrawi, dengan raut wajah serius, membeberkan kronologi kejadian yang menurutnya sudah melampaui batas kewajaran. Ia mengaku menerima beberapa pesan verbal yang disampaikan secara tidak langsung.
"Ada beberapa pesan secara verbal yang disampaikan ke tetangga, kepada saya," kata Islah.
Menurut Islah, kediamannya di Madura menjadi titik paling jelas dari rangkaian intimidasi ini. Ia menyebut sejumlah anggota TNI berseragam mendatangi rumah pamannya dan menyampaikan pesan peringatan secara langsung.
"Yang datang itu dan menunjukkan identitasnya karena berseragam, menyatakan 'Jangan terlalu keras ke Prabowo kalau memang masih mau pulang ke Madura' waktu itu. Datang ke salah satu paman saya," tuturnya.
Pesan serupa juga diterima oleh para tetangganya. Islah mengungkapkan bahwa orang-orang tak dikenal itu meminta warga sekitar untuk menyampaikan pesan agar ia tidak terlalu vokal mengkritik pemerintah.
"Dan di sini juga menyampaikan ke tetangga, 'Tolong Islah jangan terlalu vokal bersuara tentang Presiden Prabowo'. Kurang lebih begitu pesannya," ucapnya.
Pemantauan dan Profiling di Kediaman
Islah menceritakan, dugaan intimidasi ini bermula saat ia kembali dari acara peringatan 28 tahun reformasi di Universitas Islam Indonesia (UII), Yogyakarta pada 21 Mei 2026. Sepulangnya, ia mendapat laporan dari tetangga tentang aktivitas mencurigakan di sekitar rumahnya.
"Ada tetangga melaporkan bahwa, 'Pak, selama bapak berangkat ke Jogja tanggal 16 kemarin, rumah bapak ini banyak sekali orang yang seliweran di depan rumah bapak dan melakukan pemotretan, pengambilan video, sampai mereka itu hampir melompat pagar untuk memvideokan apa yang ada di dalam rumah'," kata Islah di Kantor YLBHI, Jakarta, Jumat (5/6/2026).
Bukan hanya memotret dan merekam, OTK tersebut juga aktif menggali informasi pribadi kepada tetangga. Mereka menanyakan aktivitas harian keluarga, jumlah anggota keluarga, hingga jam kerja asisten rumah tangganya.
"Menurut saya itu adalah kalau dalam dunia intelijen mungkin ada profiling awal. Mereka melakukan profiling dan mapping pemetaan dan seterusnya lewat tetangga-tetangga, dan itu cara yang lazim biasanya," ujarnya.
Islah menambahkan, tekanan ini dirasakannya sejak akhir Mei hingga Kamis (4/6/2026) malam. Ia menduga kuat bahwa rangkaian peristiwa ini adalah bentuk intimidasi sistematis untuk membungkam suara kritisnya. Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak terkait mengenai laporan Islah Bahrawi.
Artikel Terkait
Menkeu Purbaya Bungkam Soal Anggaran Perjalanan Dinas Presiden, Rujuk ke Seskab dan Mensesneg
Mantan Wakil Kepala BGN Sony Sonjaya Siap Jadi Justice Collaborator Ungkap Korupsi Makan Bergizi Gratis
Rupiah Tembus Rp 18.000 per Dolar AS, BI Buka Suara soal Pemicu dan Langkah Intervensi
Chatib Basri Ramai Dikabarkan Gantikan Purbaya sebagai Menkeu, Purbaya Bantah Keras