PARADAPOS.COM - Suasana di kompleks parlemen Jakarta, Sabtu (6/6/2026) pagi, terasa berbeda dari biasanya. Di hari libur yang seharusnya sepi, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo justru diundang pimpinan DPR untuk menggelar konferensi pers. Satu topik yang menjadi sorotan: kondisi perekonomian terkini di balik merosotnya nilai tukar rupiah dan indeks saham di bursa efek. Hadir pula Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad serta Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi.
Tak Ada Senyum, Lain dari Biasanya
Sepanjang mengikuti keterangan pers, Purbaya nyaris tanpa senyum. Berbeda dari penampilannya yang biasa ramah, menteri keuangan itu terlihat banyak menunduk ketika giliran Mensesneg berbicara. Mengenakan batik biru kekuningan, kedua tangannya disilangkan di perut. Sesekali dia mengangguk pelan saat Mensesneg menyampaikan paparan.
Ketika akhirnya diberi kesempatan untuk berbicara, Purbaya berusaha meyakinkan publik.
“Fundamental ekonomi kita baik, fiskal juga dalam kondisi baik, amat baik malah. Jadi ke depan kita akan fokus memastikan kebijakan fiskal berjalan dengan baik sehingga pertumbuhan kita semakin cepat,” katanya.
Dia kemudian menambahkan, “Dalam perjalanannya tentu kita akan meningkatkan juga koordinasi dengan bank sentral. Kita akan mendukung bank sentral, memperkuat koordinasi supaya kebijakan semakin sinkron, supaya dampak kebijakan antara moneter dan fiskal lebih signifikan ke perekonomian.”
“Kalau Saya Senyum, Rupiah Bagus”
Beberapa pekan sebelumnya, tepatnya Senin 18 Mei 2026, Purbaya sempat berbicara soal senyumnya di gedung Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Jakarta. Saat itu, nilai tukar rupiah sudah mulai tertekan ke level Rp 17.600 per dolar Amerika Serikat (AS). Meski tekanan terhadap mata uang domestik dan berbagai sentimen global kian terasa, Purbaya justru menilai kondisi ekonomi Indonesia masih dalam situasi yang baik.
“Kalau saya senyum ekonominya bagus, rupiahnya juga bagus. Makanya saya senyum terus,” ujarnya kala itu.
Rupiah, IHSG, dan Obligasi
Namun, realitas di lapangan menunjukkan gambaran yang berbeda. Nilai tukar rupiah telah jatuh sekitar 14 persen sejak Prabowo menjabat presiden RI, menjadikannya mata uang terlemah di Asia tahun ini. Minggu ini, rupiah bahkan menembus level Rp 18.000 per dolar AS.
Tekanan tidak hanya berhenti di pasar valuta asing. Menurut data Bloomberg, investor asing telah mengurangi kepemilikan obligasi pemerintah Indonesia sebesar Rp86 triliun (setara US$ 4,8 miliar), atau sekitar 9 persen, sejak Agustus lalu. Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok lebih dari 30 persen tahun ini, memicu kekhawatiran akan potensi penurunan peringkat kredit negara.
Editor: Clara Salsabila
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
ICW Desak KPK Gunakan Pasal TPPU untuk Jerat Pihak Lain di Kasus Izin Tinggal WNA, Temukan Aliran Dana Rp 366,7 Miliar
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Pengamat Nilai Pelemahan Bukan Semata Faktor Global
Susno Duadji Pertanyakan Isu Bandara Kertajati Jadi Pangkalan Militer AS
Prabowo Dikabarkan Reshuffle Kabinet Pekan Depan, Chatib Basri Masuk Bursa Menteri Keuangan