Indonesia Luncurkan I-Bio Fund untuk Dukung Pendanaan Keanekaragaman Hayati

- Rabu, 11 Maret 2026 | 06:50 WIB
Indonesia Luncurkan I-Bio Fund untuk Dukung Pendanaan Keanekaragaman Hayati

PARADAPOS.COM - Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Kehutanan dan Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH), secara resmi meluncurkan Indonesia Biodiversity Fund (I-Bio Fund). Platform pendanaan campuran ini dirancang untuk menghimpun dana dari berbagai sumber guna mendukung upaya pelestarian dan pemanfaatan berkelanjutan keanekaragaman hayati nasional. Komitmen awal telah diberikan oleh organisasi konservasi global Wildlife Conservation Society (WCS), sementara BPDLH aktif membangun kemitraan lebih luas.

Menggali Potensi Pendanaan dari Berbagai Pihak

Setelah peluncurannya, fokus saat ini adalah memperluas jaringan pendukung. BPDLH tengah mengoptimalkan upaya untuk mendapatkan komitmen dari lebih banyak lembaga, terutama melalui jalur kemitraan internasional baik bilateral maupun multilateral. Pendekatan ini dinilai krusial untuk membangun pondasi keuangan yang kuat sejak dini.

Dialog dengan berbagai filantropi, yayasan, dan lembaga serupa juga terus digalakkan. Paralel dengan itu, upaya mengakselerasi dukungan dari pasar dan konsumen individu melalui skema pendanaan inovatif turut digodok. Di sisi internal, kesiapan bisnis proses dan rencana investasi platform ini terus disempurnakan, berpedoman pada rencana strategis Kementerian Kehutanan.

Mekanisme dan Sasaran Alokasi Dana

Berdasarkan dokumen perencanaannya, I-Bio Fund dirancang dengan fleksibilitas alokasi dana. Mekanisme yang tersedia tidak terbatas pada hibah biasa, tetapi juga mencakup hibah tanggap darurat serta investasi langsung. Tujuannya adalah menciptakan dampak nyata pada tiga pilar: kelestarian ekosistem beserta spesies dan genetika di dalamnya, pemanfaatan keanekaragaman hayati yang berkelanjutan, dan penguatan tata kelola.

Program-program yang berpotensi mendapat akses pendanaan pun beragam, mencakup kegiatan perlindungan ekosistem, penanggulangan jenis asing invasif, budidaya berkelanjutan, pengembangan nilai jasa ekosistem, hingga upaya pengurangan pencemaran. Cakupan ini menunjukkan pendekatan yang komprehensif, tidak hanya fokus pada perlindungan tetapi juga pada pemanfaatan bijak.

Transformasi Paradigma: Dari Biaya Menjadi Investasi

Yang menarik dari kerangka I-Bio Fund adalah dimungkinkannya pembentukan dana abadi atau endowment fund untuk keanekaragaman hayati. Opsi ini menandai pergeseran paradigma yang signifikan, di mana keanekaragaman hayati mulai dilihat bukan lagi sebagai pusat biaya, melainkan sebagai aset yang dapat menghasilkan pendapatan dan mendorong pertumbuhan ekonomi.

Namun, transformasi filosofi ini harus diimbangi dengan tata kelola yang ketat. Diperlukan tanggung jawab pengelolaan investasi yang berhati-hati dari BPDLH selaku pengelola. Transparansi, akuntabilitas dalam pemilihan instrumen investasi, serta tata kelola yang kuat menjadi prasyarat mutlak untuk menjaga kepercayaan semua pemangku kepentingan.

Legitimasi dan Pengawasan Pengelolaan Investasi

Untuk memenuhi mandat tersebut, BPDLH telah memperoleh legitimasi legal sebagai Operator Investasi Pemerintah (OIP) melalui Keputusan Menteri Keuangan sejak 2025. Status ini memberikan kewenangan sah bagi BPDLH untuk menjalankan mandat investasi jangka pendek, menengah, dan panjang, tidak hanya untuk I-Bio Fund tetapi juga untuk dana-dana lain seperti Dana Abadi Kebencanaan.

Sebagai bentuk pertanggungjawaban, BPDLH wajib menyusun dan menyampaikan dokumen kebijakan investasi kepada Komite Investasi Pemerintah (KIP). Dokumen ini memuat rencana strategis investasi beserta profil risiko untuk setiap instrumen. Untuk memastikan kualitas keputusan, BPDLH juga membentuk Komite Investasi internal yang melibatkan pakar eksternal sebagai penyeimbang.

Masa Depan: Bio-Prospecting dan Bio-Crediting

Ketika dana abadi keanekaragaman hayati berjalan optimal, dampak ekonominya mulai dapat dirasakan. Dua rencana bisnis proses yang diprioritaskan adalah pengembangan bio-prospecting dan bio-crediting. Bio-prospecting diharapkan mendorong inovasi produk berbahan alam di tingkat komunitas dan industri, sementara bio-crediting dapat melengkapi dan memperkuat pasar karbon yang sedang berkembang pesat.

BPDLH dinilai memiliki posisi strategis karena telah memiliki pengalaman dalam pengembangan bisnis karbon di sektor kehutanan dan lahan. Kombinasi antara penguatan pasar karbon dan pengembangan bio-crediting berpotensi menempatkan Indonesia sebagai pemain utama di kancah global ekonomi berbasis alam.

Melalui pengelolaan yang transparan dan akuntabel, manfaat ekonomi dari pengembangan bisnis karbon dan bio-ekonomi ini diharapkan dapat didistribusikan secara adil. Penerima manfaatnya meliputi pemerintah pusat dan daerah, masyarakat, masyarakat hukum adat, komunitas lokal, serta pihak swasta yang memenuhi kriteria. Pada titik inilah tujuan konstitusi untuk memajukan kesejahteraan umum diharapkan dapat diwujudkan secara nyata melalui pelestarian alam yang justru mendatangkan kemakmuran.

Editor: Annisa Rachmad

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar