Atta dan Aurel Ungkap Strategi Hadapi Anak yang Kritis Soal Penggunaan Gawai

- Rabu, 11 Maret 2026 | 09:00 WIB
Atta dan Aurel Ungkap Strategi Hadapi Anak yang Kritis Soal Penggunaan Gawai

PARADAPOS.COM - Pasangan selebritas Atta Halilintar dan Aurel Hermansyah mengungkapkan tantangan mereka sebagai orang tua muda dalam mengatur penggunaan gawai bagi kedua putri mereka, Ameena dan Azura. Dalam sebuah podcast, mereka membagikan pengalaman menghadapi pertanyaan kritis sang anak serta strategi unik yang diterapkan, sambil menegaskan komitmen untuk membatasi akses media sosial dan menanamkan nilai-nilai dasar dalam pola asuh di era digital.

Pertanyaan Kritis yang Membuat Bingung

Di tengah keseharian yang lekat dengan teknologi, Aurel mengaku kerap menemui kesulitan saat memberi batasan. Suatu ketika, larangan bermain ponsel justru dibalas Ameena dengan logika yang mengejutkan. Sang anak balik mempertanyakan kebiasaan orang tuanya sendiri, sebuah momen yang kerap membuat Aurel kehabisan kata-kata.

"Satu ketika aku larang, ‘Kak jangan main handphone ya’. ‘Mama Papa juga main handphone. Ngapain Mama Papa main handphone?’ Dibalikin gitu," cerita Aurel dalam percakapan tersebut.

Aurel sempat mencoba menjelaskan bahwa ponsel yang ia gunakan terkait dengan pekerjaan. Namun, alasan itu kembali dibantah dengan jawaban polos Ameena yang justru memantik tawa.

"Mama kerja Nak, handphone kerjaan Mama di sini. ‘Ya udah aku juga kerja. Ini aku juga lagi lihat’," ujarnya menirukan sang anak.

Solusi Kreatif dan Batasan Tegas

Berangkat dari situasi itu, pasangan ini akhirnya menemukan solusi yang cukup kreatif. Mereka membelikan mainan berupa laptop dan ponsel tiruan yang terlihat mirip dengan aslinya, sebagai upaya mengalihkan perhatian Ameena dari perangkat elektronik sungguhan.

"Akhirnya tahu nggak ada caranya kita beliin laptop mainan sama handphone-handphone-an mainan semuanya," jelas Aurel.

Di sisi lain, Atta menyatakan sikap tegasnya, terutama terkait paparan media sosial. Ia merasa platform tersebut membawa banyak dampak yang perlu diwaspadai untuk anak seusia Ameena.

"Apalagi di setahun dua tahun terakhir, aku sangat nggak boleh dia pegang sosial media," tegas Atta.

Meski Ameena memiliki akun Instagram, Atta menegaskan bahwa pengelolaannya sepenuhnya berada di bawah kendali orang tua. Pendekatan ini dianggap sebagai bentuk perlindungan sekaligus partisipasi dalam dunia digital sang anak.

Kekhawatiran dan Prioritas Pola Asuh di Era Kini

Atta mengakui bahwa mendidik anak di masa sekarang terasa lebih kompleks dibanding pengalaman masa kecilnya dulu. Kemudahan akses informasi dan dinamika pergaulan modern menjadi faktor yang membuatnya dan Aurel lebih waspada.

"Di era sekarang nih kita makin ngeri juga ya melihat pergaulan melihat ini… wah apalagi dulu kita juga pernah gaul gitu kan?" ujar Atta.

Kekhawatiran serupa diungkapkan Aurel. Ia bahkan merasa lebih tenang ketika anak-anaknya berada di rumah, dibandingkan harus terpapar pergaulan luar yang dinilainya semakin mengkhawatirkan.

"Kadang pergaulannya semakin menyeramkan jadi kayak, ya Allah nggak apa-apa deh anak aku mungkin nggak segaul yang kayak aku zaman dulu," kata Aurel.

Pondasi Nilai dan Pendekatan sebagai Teman

Di balik pembatasan teknologi, Atta dan Aurel menitikberatkan pendidikan moral dan agama sebagai fondasi utama. Mereka meyakini nilai-nilai ini akan menjadi bekal penting bagi masa depan anak-anak mereka.

"Ilmunya mereka kayak gimana, gimana mereka sama Tuhan juga, gimana agamanya kita harus jaga nih," tutur Atta.

Sebagai orang tua muda, mereka juga berusaha membangun kedekatan dengan pendekatan yang lebih cair. Aurel percaya, dengan memosisikan diri sebagai teman, anak akan lebih nyaman untuk berbagi cerita.

Di tengah segala tantangan era digital, pasangan ini menegaskan bahwa kesehatan mental dan fisik anak tetap menjadi kompas utama dalam setiap keputusan pengasuhan yang mereka ambil.

Editor: Andri Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar