Dolar AS Menguat Signifikan Didorong Lonjakan Harga Minyak

- Kamis, 12 Maret 2026 | 01:50 WIB
Dolar AS Menguat Signifikan Didorong Lonjakan Harga Minyak

PARADAPOS.COM - Dolar Amerika Serikat (AS) menguat terhadap mayoritas mata uang utama dunia pada penutupan perdagangan Rabu (12 Maret 2026) waktu setempat, mencatatkan kenaikan yang cukup signifikan. Penguatan ini terjadi meskipun laporan inflasi AS yang dirilis hari itu menunjukkan angka yang relatif sesuai ekspektasi pasar. Sentimen pasar justru lebih dipengaruhi oleh lonjakan tajam harga minyak mentah dunia, yang terus berlanjut meski ada upaya intervensi besar-besaran dari badan energi global untuk meredam gejolak pasokan.

Pergerakan Indeks dan Mata Uang Utama

Indeks dolar AS, yang menjadi barometer kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama, tercatat naik 0,41 persen ke level 99,231. Pergerakan ini mencerminkan tekanan jual terhadap mata uang mitra dagang utama AS. Euro melemah menjadi USD1,1569 dari posisi sebelumnya di USD1,1644. Sementara itu, poundsterling Inggris juga terkoreksi menjadi USD1,3407.

Di pasar Asia, yen Jepang terus tertekan. Dolar AS dibeli pada level 158,89 yen, menguat cukup jauh dari level 157,63 yen pada sesi sebelumnya. Penguatan serupa juga terlihat terhadap franc Swiss dan dolar Kanada. Mata uang AS menguat menjadi 0,7799 franc Swiss dan 1,3587 dolar Kanada. Terhadap krona Swedia, dolar AS juga naik menjadi 9,2301.

Lonjakan Harga Minyak yang Tak Terbendung

Di tengah gejolak geopolitik yang mengganggu pasokan energi global, harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) justru melonjak 4,55 persen pada hari yang sama. Kenaikan ini terjadi meski Badan Energi Internasional (IEA) mengumumkan langkah luar biasa untuk meredam harga.

IEA menyatakan anggotanya akan melepaskan 400 juta barel minyak dari cadangan strategis, sebuah pelepasan terbesar dalam sejarah lembaga tersebut. Langkah ini merupakan respons langsung terhadap gangguan pasokan parah yang dipicu oleh konflik yang masih berlangsung. Namun, upaya tersebut tampaknya belum cukup untuk meredam kekhawatiran pasar akan ketatnya pasokan ke depan, sehingga tekanan harga tetap tinggi.

Data Inflasi AS Sesuai Ekspektasi

Secara terpisah, Biro Statistik Tenaga Kerja AS merilis data inflasi yang relatif tidak mengejutkan pasar. Indeks Harga Konsumen (CPI) naik 0,3 persen pada bulan tersebut setelah penyesuaian musiman, mendorong inflasi tahunan menjadi 2,4 persen. Angka ini sejalan dengan perkiraan para analis.

CPI inti, yang mengecualikan komponen makanan dan energi yang volatil, juga mencatat kenaikan bulanan sebesar 0,2 persen dan tingkat tahunan sebesar 2,5 persen. Data yang relatif stabil ini, untuk sementara, tidak mengubah ekspektasi kebijakan bank sentral AS secara dramatis.

Catatan Defisit Anggaran Pemerintah

Sementara itu, laporan keuangan pemerintah menunjukkan defisit anggaran federal AS telah melampaui angka USD1 triliun untuk tahun fiskal yang berjalan hingga Februari. Meski angkanya besar, terdapat catatan positif dalam laporan tersebut.

Departemen Keuangan AS menegaskan bahwa defisit tersebut secara signifikan lebih rendah jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun fiskal sebelumnya. Penurunan ini memberikan sedikit ruang bernapas bagi pengelola fiskal di tengah kondisi ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian.

Editor: Wahyu Pradana

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar