Iran Ancam Balas AS Lewat PBB Jika Serangan Militer Dilancarkan

- Jumat, 20 Februari 2026 | 12:50 WIB
Iran Ancam Balas AS Lewat PBB Jika Serangan Militer Dilancarkan

PARADAPOS.COM - Iran secara resmi memperingatkan Amerika Serikat bahwa pangkalan dan aset militernya di kawasan Timur Tengah akan menjadi target balasan yang sah jika Washington melancarkan serangan terhadap Teheran. Peringatan tertulis itu disampaikan oleh Duta Besar Iran untuk PBB, Amir-Saeid Iravani, kepada Sekretaris Jenderal PBB dan Dewan Keamanan pada Jumat, 20 Februari 2026, sebagai respons atas pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengisyaratkan penggunaan kekuatan militer.

Surat Resmi ke PBB dan Ancaman Pembalasan

Dalam suratnya, Duta Besar Iravani menyatakan bahwa pernyataan dari Presiden Amerika Serikat tersebut menandakan risiko nyata agresi militer. Ia menegaskan bahwa langkah semacam itu akan membawa konsekuensi yang menghancurkan bagi kawasan dan mengancam perdamaian internasional.

“Pernyataan agresif seperti itu dari Presiden Amerika Serikat menandakan risiko nyata agresi militer, yang konsekuensinya akan membawa malapetaka bagi kawasan tersebut dan akan menjadi ancaman serius bagi perdamaian dan keamanan internasional,” tulis Iravani dalam surat tersebut.

Surat itu juga mendesak Dewan Keamanan PBB untuk memastikan AS menghentikan ancaman penggunaan kekerasan yang dinilai melanggar hukum. Meski demikian, Iran menyatakan tetap berkomitmen pada jalan diplomasi dan bersedia mengklarifikasi ambiguitas seputar program nuklirnya yang dinyatakan damai.

Komitmen Diplomasi dan Peringatan Tegas

Di balik komitmen pada solusi damai, Teheran menyampaikan pesan yang tidak kalah tegas. Pemerintah Iran menegaskan bahwa jika menghadapi serangan militer, mereka akan menggunakan hak untuk membela diri. Semua fasilitas militer pihak yang dianggap musuh di kawasan akan menjadi sasaran yang sah dalam kerangka respons defensif tersebut.

Peringatan ini menjadi sinyal yang jelas tentang kesiapan Iran untuk membalas setiap tindakan ofensif, sekaligus mencerminkan ketegangan yang terus memanas di kawasan.

Eskalasi Ketegangan Pasca-Ultimatum Trump

Latar belakang peringatan Iran ini adalah eskalasi militer dan retorika dari Washington dalam beberapa waktu terakhir. Presiden Donald Trump telah mengerahkan kapal perang, jet tempur, dan perangkat militer lainnya ke Timur Tengah sebagai bentuk tekanan agar Iran menghentikan program nuklirnya.

Pada Kamis, 19 Februari 2025, Trump bahkan memberikan ultimatum, menyebut Iran memiliki waktu paling lama 15 hari untuk mencapai kesepakatan, dengan ancaman serangan jika negosiasi gagal. Langkah ini semakin mempersulit upaya penyelesaian damai yang sudah rapuh.

Jalan Panjang Negosiasi yang Terus Tersendat

Sebelum ketegangan memuncak, upaya perundingan sebenarnya sempat dilakukan. Pembicaraan tidak langsung antara utusan AS dan diplomat tinggi Iran di Jenewa dilaporkan menunjukkan titik terang dan kemajuan. Namun, momentum itu kembali runtuh setelah insiden serangan mendadak Israel ke Iran pada Juni lalu.

Serangan yang memicu perang selama 12 hari itu bahkan sempat melibatkan Washington dalam pemboman situs nuklir Iran. Insiden tersebut menjadi bukti betapa rentannya situasi dan bagaimana sebuah aksi militer dapat dengan cepat menggagalkan proses diplomasi yang telah dibangun.

Editor: Dian Lestari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar