PARADAPOS.COM - Iran kembali melancarkan serangan rudal dan drone ke sejumlah negara di kawasan Teluk pada Kamis malam, 4 Maret 2026. Kuwait, Bahrain, Uni Emirat Arab (UEA), dan Qatar menjadi sasaran, dengan sistem pertahanan udara beberapa negara berhasil mencegat sejumlah proyektil. Eskalasi militer ini merupakan bagian dari konflik yang meluas setelah operasi AS dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari lalu, yang telah memicu korban jiwa di kedua belah pihak dan mengganggu stabilitas kawasan.
Rincian Serangan di Berbagai Negara
Serangan yang dilancarkan Iran malam itu menargetkan beberapa titik sekaligus. Di Kuwait, otoritas militer mengonfirmasi bahwa sistem pertahanan udara mereka berhasil mencegat beberapa proyektil yang memasuki wilayah udara negara tersebut. Sementara itu, Bahrain mengalami serangan yang lebih berdampak fisik.
Sebuah kilang minyak utama di Pulau Sitra terkena rudal dan terbakar. Otoritas setempat menyatakan api telah berhasil dikendalikan tanpa korban luka, meski tingkat kerusakan fasilitas milik Bapco Energies itu masih dalam peninjauan.
Tanggapan dan Kondisi di Qatar serta UEA
Qatar juga melaporkan menjadi sasaran. Kementerian Pertahanan negara tersebut menyebut sedikitnya 14 rudal balistik dan empat drone diluncurkan dari Iran ke arah mereka.
Kondisi di Uni Emirat Arab tampak lebih intens. Laporan dari Doha menggambarkan langit Abu Dhabi yang dipenuhi cahaya dari sistem pertahanan udara yang aktif menangkis serangan. Dalam satu hari saja, UEA dikabarkan menghadapi setidaknya 131 drone dan enam rudal balistik. Negara itu telah mengalami rentetan serangan serupa selama enam hari berturut-turut.
Latar Belakang Eskalasi Konflik
Gelombang serangan ini tidak terjadi secara tiba-tiba. Menurut analisis perkembangan di lapangan, serangan Iran awalnya difokuskan pada aset militer Amerika Serikat di kawasan. Namun, sasaran kemudian meluas ke instalasi sipil setelah operasi militer AS dan Israel diluncurkan terhadap Iran pada 28 Februari.
Data yang dikutip dari media pemerintah Iran menyebut operasi tersebut telah menewaskan sedikitnya 1.230 orang di Iran. Di sisi lain, serangan balasan Iran dilaporkan menelan korban enam personel militer AS, 11 orang di Israel, dan tiga orang di UEA.
Kecaman Internasional dan Dampak yang Meluas
Negara-negara Teluk Arab dengan tegas mengecam serangan Iran. Mereka menyebut tindakan itu sebagai pelanggaran hukum internasional dan, dalam pernyataan bersama dengan Amerika Serikat, menegaskan hak untuk membela diri.
Ketegangan yang meningkat ini telah memicu langkah-langkah keamanan ekstra. Amerika Serikat, misalnya, menangguhkan operasional Kedutaan Besarnya di Kuwait City dan membatasi layanan di beberapa misi diplomatiknya di kawasan, termasuk di Arab Saudi dan UEA.
Dampaknya pun merambah ke sektor ekonomi global. Pasar energi dunia mulai merasakan gejolak setelah beberapa kapal tanker minyak tertahan di sekitar Selat Hormuz. Jalur sempit ini merupakan arteri vital yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak mentah dunia, sehingga gangguan di kawasan ini selalu diawasi dengan ketat oleh pasar internasional.
Artikel Terkait
Kementerian Keuangan Israel Desak Longgarkan Pembatasan, Kerugian Ekonomi Capai Rp 50 Triliun per Minggu
Iran Siap Sambut Invasi Darat AS-Israel, Peringatkan Akan Jadi Bencana
Dunia Muslim Kecam Pernyataan Pejabat AS yang Sebut Konflik dengan Iran sebagai Perang Agama
Iran Klaim Serang Tel Aviv dan Bandara Ben Gurion dengan Rudal Khorramshahr-4