Iran Siap Hadapi Armada AS di Selat Hormuz, Ancaman Guncang Pasar Minyak Global

- Selasa, 10 Maret 2026 | 07:00 WIB
Iran Siap Hadapi Armada AS di Selat Hormuz, Ancaman Guncang Pasar Minyak Global

PARADAPOS.COM - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas menyusul pernyataan militer Iran yang menyatakan kesiapan menghadapi armada Amerika Serikat di Selat Hormuz. Pernyataan ini muncul sebagai respons langsung terhadap ancaman Presiden AS Donald Trump, yang memperingatkan serangan balasan dahsyat jika Iran mengganggu jalur pelayaran vital tersebut. Situasi ini mengancam stabilitas jalur energi global, di mana sekitar 20% pasokan minyak dunia bergantung pada selat sempit ini.

Iran Siap Sambut Armada AS di Selat Hormuz

Melalui juru bicara Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), Mayor Jenderal Ali Mohammad Naeini, angkatan bersenjata Iran secara terbuka menyatakan sedang menunggu kedatangan kekuatan laut Amerika di kawasan tersebut. Pernyataan ini disampaikan melalui media pemerintah Iran, Selasa (10/3/2026), dan secara khusus menyebutkan nama kapal induk AS, Gerald Ford.

Naeini menegaskan posisi Teheran dengan bahasa yang tegas. "Angkatan bersenjata Republik Islam Iran sedang menunggu armada laut AS di kawasan Selat Hormuz dan menunggu kapal induk Gerald Ford," tuturnya.

Lebih lanjut, ia menyatakan bahwa kunci untuk mengakhiri konflik sepenuhnya berada di tangan Iran, sebuah pernyataan yang menegaskan klaim kendali atas situasi regional.

Klaim Penarikan Pasukan AS

Dalam pernyataan yang sama, Naeini mengklaim bahwa ketakutan terhadap kemampuan rudal dan drone Iran telah memaksa kapal perang dan pesawat tempur AS untuk menjaga jarak. Menurutnya, armada Amerika kini beroperasi di luar jangkauan efektif, lebih dari 1.000 kilometer dari wilayah Iran.

Klaim ini sekaligus membantah jaminan keamanan dari pihak AS. "Amerika mengatakan kapal komersial dan militer dapat melintas dengan mudah di Selat Hormuz. Namun kenyataannya kapal perang dan pesawat tempur mereka telah meninggalkan wilayah ini dan ditempatkan lebih dari 1.000 kilometer dari Iran untuk menghindari rudal dan drone kami," jelasnya.

Ancaman Guncang Pasar Energi Global

Eskalasi verbal ini diikuti dengan ancaman yang berpotensi mengguncang ekonomi dunia. Iran mengeluarkan peringatan keras bahwa mereka siap mengambil langkah drastis jika serangan militer gabungan AS dan Israel terus berlanjut.

Langkah tersebut berupa penghentian total ekspor minyak melalui kawasan strategis itu. "Jika serangan AS-Israel berlanjut, Iran tidak akan mengizinkan satu liter pun minyak diekspor dari kawasan ini," ungkap Naeini.

Ancaman ini bukanlah retorika kosong. Analis energi lama memperingatkan bahwa gangguan di Selat Hormuz, bahkan untuk sementara, dapat memicu gejolak harga minyak internasional dan menimbulkan ketidakstabilan ekonomi, terutama bagi negara-negara yang bergantung pada impor energi dari Teluk.

Balasan Trump: Ancaman Serangan "Dua Puluh Kali Lebih Keras"

Menanggapi provokasi dari Teheran, Presiden Donald Trump membalas dengan nada yang lebih keras melalui platform media sosial Truth Social. Ia memperingatkan konsekuensi yang menghancurkan jika Iran benar-benar mencoba memblokade selat tersebut.

"Jika Iran melakukan apa pun yang menghentikan aliran minyak di Selat Hormuz, mereka akan dihantam oleh Amerika Serikat dua puluh kali lebih keras daripada yang sudah mereka alami sejauh ini," tulis Trump.

Dalam postingannya, Trump juga menyebut target-target penting Iran "mudah dihancurkan" dan menyatakan serangan lanjutan bisa membuat upaya rekonstruksi militer Iran hampir mustahil. "Jika itu terjadi, kematian, api, dan amarah akan menghujani mereka," tulisnya, sambil menambahkan harapan agar skenario terburuk itu tidak terjadi.

Pengerahan Kekuatan Militer AS

Di balik pertukaran ancaman ini, pengerahan kekuatan militer nyata telah berlangsung. United States Central Command mengonfirmasi bahwa dua kelompok tempur kapal induk AS telah dikerahkan ke kawasan Timur Tengah. Kapal induk USS Abraham Lincoln dilaporkan beroperasi di Laut Arab, sementara USS Gerald R. Ford telah berpindah ke Laut Merah setelah melintasi Terusan Suez.

Pergerakan kapal induk ini merupakan sinyal kekuatan militer yang lazim, namun kehadiran mereka di tengah tensi tinggi menambah dimensi nyata pada krisis diplomatik. Selat Hormuz, dengan lebar hanya sekitar 33 kilometer di titik tersempit, menjadi latar bagi salah satu persimpangan geopolitik dan ekonomi paling rawan di dunia. Setiap insiden di perairan ini berpotensi memicu konsekuensi yang jauh melampaui batas regional.

Editor: Reza Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar