PARADAPOS.COM - Pemerintah Spanyol secara resmi menarik Duta Besarnya dari Tel Aviv, menurunkan status perwakilan diplomatiknya menjadi tingkat kuasa usaha. Keputusan tegas ini, diumumkan pada Selasa (10/3) dan dimuat dalam lembaran negara sehari kemudian, merupakan eskalasi terbaru dari ketegangan bilateral yang telah memanas sejak perang di Gaza. Langkah ini mengikuti kecaman keras Madrid terhadap serangan koalisi AS-Israel ke Iran yang dinilai ilegal, serta penolakannya untuk mengizinkan pangkalan militer Spanyol digunakan dalam operasi tersebut.
Penurunan Status Diplomatik Diumumkan Secara Resmi
Setelah melalui pertimbangan internal, pemerintah Spanyol akhirnya memutuskan untuk memanggil pulang duta besarnya di Israel. Keputusan strategis ini kemudian diresmikan dengan publikasi di lembaran negara pada Rabu (11/3), mengukuhkan perubahan struktur kepemimpinan di kedutaan.
Seorang sumber di Kementerian Luar Negeri Spanyol menjelaskan, "Kedutaan Besar Spanyol di Tel Aviv akan dipimpin oleh seorang kuasa usaha (chargé d'affaires), bukan oleh seorang duta besar penuh."
Konfirmasi serupa juga datang dari sumber media lain yang menyoroti durasi penarikan ini. Sumber tersebut mengungkapkan, "Kementerian Luar Negeri mengonfirmasi penarikan duta besar untuk Tel Aviv, yang dipanggil pulang untuk konsultasi ‘tanpa batas waktu’, sehingga Kedutaan Besar Spanyol di Tel Aviv berada di bawah kepemimpinan seorang kuasa usaha, pada tingkat yang sama dengan Kedutaan Besar Israel di Madrid."
Riwayat Ketegangan yang Berlarut-larut
Langkah Madrid ini bukanlah sebuah tindakan yang tiba-tiba, melainkan puncak dari kemerosotan hubungan yang berlangsung hampir setahun. Relasi Spanyol dan Israel terus memburuk secara konsisten pasca dimulainya konflik Gaza pada Oktober 2023. Di antara sedikit negara Eropa yang bersuara lantang, pemerintah Spanyol kerap menyuarakan kritik pedas terhadap operasi militer Israel, bahkan dengan terminologi yang kuat.
Puncak perselisihan sebelumnya terjadi ketika Spanyol, bersama beberapa negara lain, secara resmi mengakui kedaulatan Palestina pada 2024. Kebijakan itu langsung dibalas Israel dengan tindakan diplomatik serupa: menarik duta besarnya dari Madrid dan menurunkan status perwakilannya menjadi kuasa usaha. Situasi tersebut menciptakan kemandekan diplomatik yang kini semakin dipertegas oleh keputusan terbaru Spanyol.
Posisi Tegas Menentang Serangan ke Iran
Pemicu langsung dari penarikan duta besar ini adalah perbedaan pandangan mendasar mengenai hukum internasional dan intervensi militer. Awal Maret 2026, Perdana Menteri Pedro Sánchez secara terbuka menyatakan bahwa serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran merupakan pelanggaran terhadap hukum internasional. Lebih dari sekadar pernyataan, Sánchez mengambil tindakan nyata dengan menolak memberikan dukungan militer kepada Amerika Serikat, termasuk penggunaan pangkalan militer Spanyol untuk operasi tersebut.
Posisi berani Sánchez ini, yang membuatnya menjadi satu-satunya pemimpin dari 27 negara Uni Eropa yang secara terbuka menentang kebijakan AS saat itu, memicu reaksi keras dari Gedung Putih. Presiden AS Donald Trump dilaporkan mengancam akan memutus hubungan perdagangan dengan Spanyol, menunjukkan betapa sensitifnya situasi ini di kancah geopolitik global. Keputusan menarik duta besar dari Tel Aviv, dengan demikian, dilihat sebagai konsistensi dari kebijakan luar negeri Madrid yang lebih independen dan berprinsip dalam menyikapi konflik di Timur Tengah.
Artikel Terkait
Keheningan Netanyahu Picu Spekulasi Liar Soal Kondisi PM Israel
Krisis BBM Melanda Hanoi, Vietnam Respons Ketegangan di Timur Tengah
Iran Ancam Serang Kantor Google dan Microsoft di Timur Tengah
Iran Luncurkan Serangan Rudal Skala Besar ke Israel, Sirene Peringatan Berbunyi di Tel Aviv