Ulama Soroti Akar Teologis dan Nubuat Akhir Zaman dalam Konflik Israel-Palestina

- Jumat, 06 Maret 2026 | 10:50 WIB
Ulama Soroti Akar Teologis dan Nubuat Akhir Zaman dalam Konflik Israel-Palestina

PARADAPOS.COM - Konflik berkepanjangan antara Zionis Israel dan rakyat Palestina, yang saat ini memuncak dalam serangan mematikan di Gaza, memiliki akar sejarah dan teologis yang dalam dalam tradisi Islam. Narasi ini merujuk pada catatan permusuhan sejak era Nabi Muhammad SAW di Madinah, pendudukan Palestina tahun 1948, hingga analisis kontemporer tentang nubuat akhir zaman terkait pertarungan terakhir melawan Yahudi, sebagaimana diuraikan oleh sejumlah ulama berdasarkan hadits Nabi.

Akarnya dalam Sejarah dan Keyakinan

Dalam perspektif sejarah Islam, ketegangan dengan kelompok Yahudi telah tercatat sejak masa awal kenabian Muhammad SAW. Setelah hijrah ke Madinah, berbagai perjanjian sempat dijalin, namun diwarnai oleh pelanggaran dan perselisihan dari sejumlah kabilah Yahudi saat itu. Narasi ini kemudian berkembang menjadi keyakinan di sebagian kalangan Muslim bahwa permusuhan ini bersifat abadi, yang memuncak dalam pendirian negara Israel di tanah Palestina pada 1948 dengan dukungan Inggris. Peristiwa terkini di Gaza, yang digambarkan sebagai tindakan genosida, dipandang sebagai kelanjutan tragis dari siklus konflik panjang ini.

Menyoroti kondisi Yahudi, Syaikh Mahir Ahmad Ash-Shuffi dalam karyanya "Al-Mautu wa alamul barzakh" memberikan perspektif teologis. Ia mengungkapkan, "Allah SWT telah memberikan kepada Yahudi sedikit kenikmatan dan kesenangan. Kehancuran akan berbalik menimpa mereka dan bencana pun akan bergilir pada mereka."

Nubuat Pertarungan Akhir dan Tanda-Tandanya

Lebih lanjut, sejumlah hadits Nabi SAW sering dikutip untuk membaca realitas terkini. Salah satu riwayat yang populer menyebutkan tentang pertarungan di akhir zaman, di mana kaum Muslimin akan memerangi Yahudi hingga yang terakhir bersembunyi di balik batu dan pepohonan. Uniknya, benda-benda alam itu dikisahkan akan berbicara mengungkapkan persembunyian mereka, kecuali pohon Gharqad yang disebut sebagai "pohon Yahudi".

Syekh Mahir Ahmad Ash-Shuffi menegaskan keyakinannya akan kebenaran nubuat ini. Dalam bukunya, ia menulis, "Berkumpulnya Yahudi di Palestina adalah bukti kebenaran sabda Rasulullah SAW bahwa kaum Muslimin kelak akan membunuh mereka semua, Insya Allah."

Rasulullah SAW sendiri pernah bersabda, "Kiamat tidak terjadi hingga kaum Muslimin memerangi Yahudi. Kaum Muslimin akan membunuh mereka semua hingga orang Yahudi bersembunyi di belakang batu dan pohon. Maka, batu dan pohon itu pun berkata, 'Wahai Muslim, wahai hamba Allah, ini orang Yahudi ada di belakangku, bunuhlah ia' Kecuali gharqad, sebab ia termasuk pohon orang Yahudi'." (HR Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Riwayat serupa juga datang dari Ibnu Umar, yang menyatakan, "Kalian akan diperangi oleh Yahudi, lalu kalian akan diberi kemenangan atas mereka. Sampai-sampai batu akan berbicara, 'Hai Muslim, ini orang Yahudi di belakangku, bunuhlah ia'." (HR Imam Bukhari, Imam Muslim dan Imam At-Tirmidzi).

Dua Kemungkinan Waktu Kejadian

Lantas, kapan peristiwa besar ini diperkirakan terjadi? Menyadari pertanyaan ini telah menghantui umat selama puluhan tahun sejak pendudukan 1948, Syekh Mahir dalam analisisnya mengajukan dua skenario teologis yang mungkin. Pertama, peristiwa itu akan terjadi menjelang tanda-tanda besar kiamat (kubra), seperti terbitnya matahari dari barat atau munculnya asap (dukhan), yang menandai berakhirnya kehidupan mereka.

Kedua, ia menjelaskan bahwa hal itu bisa terjadi pada era munculnya Dajjal dan turunnya Nabi Isa AS. Pada masa itu, umat manusia akan terbelah: pengikut Nabi Isa yang beriman melawan pengikut Dajjal, yang didukung oleh Yahudi. Pertarungan akhir akan dimenangkan oleh Nabi Isa AS atas izin Allah.

Menutup uraiannya, sang syekh memberikan catatan reflektif. "Semua ini berada dalam ilmu Allah SWT. Namun, berkumpulnya Yahudi di Palestina dan di jantung negara Arab, merupakan bukti yang sangat kuat atas dekatnya peristiwa dan dekatnya kejadian hari kiamat. Wallahu a'lam," tuturnya.

Pembahasan ini, meski sarat dengan keyakinan teologis tertentu, mencerminkan bagaimana narasi sejarah dan nubuat agama membentuk persepsi sebagian umat Islam terhadap konflik Israel-Palestina yang nyata dan berdarah-darah saat ini. Ia menjadi lensa untuk memahami kedalaman emosi dan harapan yang melingkupi perjuangan tersebut.

Editor: Laras Wulandari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar