dr. Tirta: Menu Sahur Tentukan Stamina, Karbohidrat Tetap Penting Meski untuk Cutting

- Rabu, 04 Maret 2026 | 20:00 WIB
dr. Tirta: Menu Sahur Tentukan Stamina, Karbohidrat Tetap Penting Meski untuk Cutting

PARADAPOS.COM - Saat bulan Ramadan, banyak orang mengeluhkan tubuh lemas dan tak bertenaga di siang hari. Kondisi ini ternyata sangat dipengaruhi oleh pilihan menu sahur. Dokter dan influencer kesehatan, dr. Tirta, dalam sebuah podcast, mengungkapkan bahwa metabolisme tubuh selama belasan jam puasa bergantung pada cadangan energi dari makanan sahur. Oleh karena itu, komposisi nutrisi yang tepat menjadi kunci untuk menjaga stamina sepanjang hari berpuasa.

Kunci Stamina: Mengandalkan Cadangan Energi Tubuh

Prinsip dasarnya sederhana namun krusial. Selama berpuasa, tubuh tidak mendapat asupan baru sehingga harus menggunakan simpanan energinya. Apa yang kita konsumsi sebelum imsak akan menentukan kualitas energi yang tersedia. Ini berarti, sahur bukan sekadar ritual pengganjal lapar, melainkan fondasi nutrisi untuk aktivitas harian.

Dalam penjelasannya di kanal YouTube Raditya Dika, dr. Tirta menegaskan hal ini.

"Jadi kita hanya pure mengandalkan cadangan energi yang udah disimpen oleh tubuh. Apa yang kita makan saat sahur itu akan mempengaruhi aktivitas kita selama seharian," ungkapnya.

Mitos dan Fakta Seputar Karbohidrat dan Protein

Lantas, mana yang lebih utama untuk sahur: karbohidrat atau protein? Beredar anggapan bahwa protein membuat kenyang lebih lama, sehingga disarankan untuk diperbanyak. dr. Tirta meluruskan bahwa pendekatannya tidak bisa seragam untuk semua orang. Menu harus seimbang, namun penekanannya bisa berbeda berdasarkan kondisi fisik individu.

Bagi mereka yang berat badannya sudah ideal, karbohidrat tetaplah komponen penting yang tidak boleh diabaikan.

"Kalau untuk orang yang sudah seimbang (berat badannya), ya dia tetap harus makan karbohidrat pada waktu sahur. Kalau nggak, lemes banget dia pas seharian puasa," tegasnya.

Puasa sebagai Momen "Cutting" yang Tepat

Di sisi lain, bulan Ramadan justru bisa dimanfaatkan sebagai strategi untuk menurunkan berat badan atau "cutting". Mekanismenya, dengan mengurangi asupan tertentu, tubuh akan dipacu untuk membakar lemak di area seperti perut dan paha sebagai sumber energi alternatif.

dr. Tirta memberikan saran spesifik untuk kelompok ini.

"Kalau misalkan kita obesitas, justru pas puasa ini adalah momen fokus ngibadah sekaligus buat cutting. Boleh pas sahur karbonya dikurangi, banyakin protein," jelasnya.

Peringatan Penting: Jangan Hilangkan Karbohidrat Sepenuhnya

Meski menganjurkan pengurangan karbohidrat bagi yang ingin cutting, dr. Tirta tetap mengingatkan untuk tidak menghilangkannya sama sekali dari piring sahur. Tubuh tetap memerlukan glukosa sebagai sumber energi utama untuk berfungsi dengan optimal dan mencegah lemas berlebihan.

"Tapi tetap harus ada karbonya, kalau nggak, lemes nanti pas siang. Tubuh tetap butuh energi yang berasal dari gula dalam makanan," pungkasnya.

Dengan memahami kebutuhan tubuh sendiri, kita bisa menyusun menu sahur yang lebih cerdas. Tidak ada kata terlambat untuk menyesuaikan pola makan di tengah perjalanan Ramadan ini. Pendekatan yang personal akan membantu puasa terasa lebih lancar dan ibadah pun dapat dijalani dengan lebih maksimal.

Editor: Dian Lestari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar