PARADAPOS.COM - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menerima kunjungan tim Inter Miami di Gedung Putih, Senin, untuk merayakan gelar juara MLS Cup 2025. Namun, acara yang seharusnya fokus pada prestasi olahraga itu justru didominasi oleh pidato politik Trump yang membahas isu-isu global, mulai dari operasi militer terhadap Iran hingga ketegangan dengan Kuba. Lionel Messi dan rekan-rekannya hadir dalam seremoni yang menciptakan kontras latar belakang di tengah narasi politik yang mengemuka.
Pidato Politik di Balik Perayaan Olahraga
Suasana di East Room, Gedung Putih, awalnya tampak seperti perayaan olahraga biasa. Lionel Messi berdiri di samping podium, didampingi pemilik klub Jorge Mas, sementara para pemain Inter Miami berjejer di belakangnya. Namun, nada acara segera berubah ketika Presiden Trump mengambil mikrofon.
Alih-alih berfokus pada taktik dan kemenangan Inter Miami, Trump menghabiskan sembilan menit pertama pidatonya untuk menyentuh berbagai isu kebijakan luar negeri dan klaim pencapaian ekonomi domestik. Hanya di akhir sambutannya, sorotan kembali ke bintang sepak bola yang hadir.
"Adalah hak istimewa bagi saya untuk mengatakan apa yang belum pernah berkesempatan dikatakan oleh Presiden AS sebelumnya," ujarnya. "Selamat datang di Gedung Putih, Lionel Messi!"
Kunjungan ini menjadi yang pertama bagi Messi ke Pennsylvania Avenue. Sebelumnya, pada Januari 2025, ia mendapat penghargaan Presidential Medal of Freedom namun memilih absen dengan alasan jadwal lain.
Kontras di Balik Podium
Keberagaman skuad Inter Miami menciptakan latar belakang yang unik untuk pidato Trump. Di antara para pemain yang hadir terdapat nama-nama seperti David Ruiz (keturunan Honduras) dan Fafa Picault (keturunan Haiti), negara-negara yang pernah menjadi sasaran komentar kontroversial Trump di masa lalu. Gelandang asal Venezuela, Telasco Segovia, juga hadir di tengah ketegangan politik antara Washington dan Caracas.
Sementara itu, dua veteran asal Spanyol, Jordi Alba dan Sergio Busquets, terpantau tidak hadir. Pemilik klub, Jorge Mas, yang merupakan putra pengungsi Kuba, menggunakan kesempatannya untuk menyampaikan pesan tersirat tentang kebebasan.
"Saya ingin menyampaikan betapa merupakan kehormatan dan hak istimewa yang luar biasa untuk berada di rumah rakyat ini, merayakan keberhasilan bersama para juara," tutur Mas dalam pidato yang menyinggung nilai-nilai perjuangan melawan tirani.
Figur Olahraga dalam Arena Politik
Meski sering dijuluki "Presiden Sepak Bola" AS karena perannya dalam memenangkan tuan rumah bersama Piala Dunia 2026, Trump dikritik karena kerap memanfaatkan momen olahraga sebagai latar belakang agenda politiknya. Acara di Gedung Putih ini menjadi contoh terbaru bagaimana olahraga dan politik saling bersinggungan di era kepemimpinannya.
Sepanjang acara, Lionel Messi tampak menjaga sikap netralnya. Ia hanya sesekali mengangguk dan tersenyum tipis, termasuk ketika Trump bertanya kepada rekan-rekan Messi tentang perbandingannya dengan legenda Brasil, Pelé. Sikap apolitis ini konsisten dengan rekam jejak Messi selama kariernya, di mana ia jarang terlibat dalam perdebatan politik publik.
Acara ditutup dengan kunjungan singkat ke Oval Office, mengakhiri sebuah seremoni yang, pada akhirnya, lebih banyak menyoroti dinamika kekuasaan dan diplomasi global daripada taktik sepak bola yang membawa Inter Miami meraih piala.
Artikel Terkait
Pakar UGM: Keluar dari Board of Peace Mungkin Secara Teori, tapi Dilema Ekonomi Jadi Kendala Nyata
Pandji Pragiwaksono Dipanggil Kembali Penyidik Usai Jalani Sidang Adat Toraja
Kemenag Mulai Salurkan TPG Guru Madrasah Secara Bertahap
Kimberly Ryder Wujudkan Impian Umrah Ramadan dan Berharap Lebaran di Tanah Suci